Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 12 Sep 2018 15:46 WIB

Lempar-lemparan Rini dan Bos Inalum soal Hilirisasi Tambang

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Pool/BUMN Foto: Pool/BUMN
Jakarta - Sektor pertambangan didorong untuk melakukan hilirasi produk pertambangan. Beragam aturan pun telah dilahirkan oleh pemerintah untuk mencapai target tersebut.

Namun hingga hari ini hilirisasi produk pertambangan Indonesia belum maksimal. Masih banyak produk tambang mentah yang diekspor, lalu produk akhirnya kembali diimpor dalam bentuk barang jadi.

Hal itu kembali ditanyakan oleh awak media dalam acara paparan kinerja ekspor BUMN tambang hari ini. Direktur Utama Inalum selaku induk dari holding BUMN tambang, Budi Gunadi Sadikin pun menjadi sasaran dari pertanyaan ini.


Namun saat menjawab pertanyaan itu, Budi justru melempar kembali ke Menteri BUMN Rini Soemarno yang juga hadir dalam acara ini.

"Peta jalannya sudah ada sebenarnya, tapi enggak jalan-jalan. Enggak tahu juga ini enggak jalan-jalan karena apa. Itu mesti tanya Ibu Rini," tuturnya di Energy Building, SCBD, Jakarta, Rabu (12/9/2018).

Setelah pernyataan itu, Rini langsung menjawab. Dia justru kembali mempertanyakan itu kepada Menteri Perindustrian dan para bos BUMN tambang yang sudah lama menjabat.

"Loh yang punya cetak biru siapa? Menperin? Ya udah. Terus di tambang yang sudah lebih lama siapa? saya atau kalian? ya kalian kan," jawabnya.


Rini pun menegaskan, rencana hilirisasi produk pertambangan dari para BUMN yang sudah matang harus segera direalisasikan. Dia menetapkan target hingga akhir tahun ini.

Menurut Rini, Indonesia memiliki banyak kekayaan alam terkait tambang. Seharusnya industri pertambangan Indonesia bisa kuat dengan karunia itu. Namun sayangnya selama ini Indonesia terlena dengan ekspor barang mentah.

"Contoh bauksit yang harusnya produk akhirnya aluminium, lalu nikel produk akhirnya stainless. Ke depan ini kerja keras dari bapak-bapak direksi ini. Bahwa ini kita harus lakukan. Kalau kita punya bahan baku tambang otomatis harusnya kita tangguh. Karena banyak negara permasalahan mereka enggak punya bahan baku," tegasnya. (das/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed