Jonan: Neraca Dagang Tekor Bukan karena Konsumsi Minyak, Tapi Harga

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Senin, 17 Sep 2018 19:08 WIB
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar US$ 1,02 miliar di Agustus 2018. Defisit itu salah satunya disumbang oleh defisit migas sebesar US$ 1,6 miliar, sementara non migas masih surplus US$ 630 juta.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan, besarnya defisit bukan disebabkan oleh konsumsi yang meningkat. Melainkan, lebih banyak dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak.

"Jadi kalau neraca perdagangan migas minus itu bukan kenaikan konsumsinya naik. Tapi lebih banyak kepada harga," kata Jonan di Kementerian ESDM Jakarta, Senin (17/9/2018).


Jonan mengatakan, produksi minyak nasional sekitar 700 ribu hingga 800 ribu barrels of oil per day (bopd). Sedangkan, konsumsinya mencapai 1,3 juta hingga 1,4 juta bopd.

Dengan selisih itu, Jonan memastikan neraca perdagangan migas pasti defisit.

"Produksinya minyak 700-800 ribu konsumsinya 1,3 juta, 1,4 juta barel sehari ya pasti minus," ujarnya.


Sementara, Jonan berharap tambahan kuota ekspor batu bara diharapkan dapat menambal defisit dari sektor migas. Kementerian ESDM ini telah memberikan kuota tambahan ekspor sebanyak 100 juta ton, namun yang mengajukan tambahan kuota baru sebesar 22 juta ton.


"Kan targetnya ada tambahan ekspor 100 juta ton, misalnya nilai ekspor rata-rata US$ 60. Kalau kali 100 juta ton, berapa tuh? Kalau itu terealisasi, bisa nutup, pasti. Malah lebih," ungkapnya.

"Tapi sampai sekarang, yang ngajuin 22-23 juta. Ya, nambah sih paling nggak. 25 juta ton kali US$ 60, US$ 1,5 miliar. Untuk tiga bulan bisa. Saya kira bisa," ujarnya. (zlf/zlf)