Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 30 Okt 2018 13:13 WIB

Tantangan Pasok BBM Satu Harga, Perang Suku hingga Biaya Pesawat

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
BBM Satu Harga/Foto: Raja Adil Siregar BBM Satu Harga/Foto: Raja Adil Siregar
Jakarta - Pemerintah melakukan terobosan di sektor energi dengan progam BBM Satu Harga. Dengan begitu, masyarakat di wilayah terdepan, terluar dan terpencil (3T) bisa mendapatkan harga yang sama untuk memenuhi kebutuhan energi seperti gas dan minyak. Mereka tidak lagi membeli harga BBM berkali-kali lipat dibanding di pulau Jawa.

Koordinator BBM Satu Harga PT Pertamina (Persero), Zibali Hisbul Masih menjelaskan, banyak tantangan yang harus dilalui dari realisasi program BBM satu harga. Target yang diberikan pemerintah untuk merealisasikan program BBM satu harga di 150 titik di kawasan 3T dalam 3 tahun tak mudah.


"Program ini kan targetnya kita bisa merealisasikan BBM satu harga di 150 lembaga penyalur dalam tiga tahun. Mulai dari 2017, 2018, 2019," jelas dia dalam diskusi dengan awak media di kawasan, Menteng Jakarta Pusat, Selasa (30/10/2018).

Ia menjelaskan, dulu harga BBM di tanah Papua harganya bisa Rp 50.000-Rp 100.000/liter. Jika cuaca sedang buruk maka harga BBM di tanah Papua bisa mencapai Rp 150.000/liter. Pembangunan lembaga penyalur BBM ini kerapkali terhambat karena jalur yang sulit di hadapi, selain itu juga masih ada hambatan berupa perang antar suku di beberapa kawasan yang kerap kali merusak fasilitas umum.


"Dulu di 8 kabupaten di Papua dan Papua Barat belum ada penyalur. Delapan kabupaten ini hanya menyalurkan BBM non subsidi, di sana belum bisa mendapatkan BBM dengan harga murah seperti kita di sini, harganya Rp 50.000-Rp 100.000 kalau lagi cuacanya nggak bagus harganya bisa Rp 150.000/ liter, kita akan fokuskan ke kawasan yang aman dulu karena ada kejadian di mana SPBU Kompak kita dibakar karena sedang ada perang antar suku di salah satu daerah di Papua," jelas Zibali.

Moda transportasi yang biasanya digunakan untuk menyalurkan BBM ini terdiri dari angkutan darat, laut sampai udara, Ia menjelaskan, sulitnya penyaluran yang dilakukan ke daerah 3T membuat Pertamina harus memesan pesawat air tractor dari Kanada untuk mengangkut minyak ke kawasan yang tidak terjangkau oleh darat dan laut.

"Jalanan di sana itu, berbatu dan berpasir jalur darat tidak bisa dilalui. Karena sulit kita masuknya ke transportasi udara tapi 2017 kan sudah mulai udah ada bandara kecil yang, kita coba mendapatkan pesawat air tractor untuk mengangkut BBM itu pesawat dari Kanada dan ini biayanya nggak murah ini awalnya kita gunakan untuk mengangkut BBM ke kawasan terpencil di Indonesia," kata Zibali.


Selain sulit dilalui, biaya angkut menggunakan pesawat berkali-kali lipat lebih mahal. Ia menjelaskan, untuk biaya angkut BBM dengan air tractor membutuhkan ongkos Rp 40.000- Rp 50.000/liter. Berbeda dengan jalur darat yang hanya Rp 500-Rp 1.000/liter.

"Harga ini terkait suplai distribusi tiap titik beda, kalau untuk menggunakan air tractor Rp 40.000-Rp 50.000/liter kalau darat Rp 500- Rp 1.000/ liter belum marginnya untuk biayanya. Ya masih kita konsolidasikan ini macam-macam tergantung medannya. Kalau menggunakan jalur laut ongkosanya bisa di bawah Rp 5.000," jelas dia.

Sementara itu BBM yang disalurkan ke kawasan 3T dalam program BBM satu harga tetap dijual dengan harga eceran yaitu untuk premium Rp 6.450/liter dan solar Rp 5.150/liter.




Tonton juga 'Pengamat Ekonomi Energi UGM: Premium itu Racun Bagi Pemerintah!':

[Gambas:Video 20detik]

(hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com