Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 30 Nov 2018 10:53 WIB

KEIN: Jangan Abai dengan Program B20

Mustiana Lestari - detikFinance
Foto: KEIN Foto: KEIN
Jakarta - Ekonom sekaligus Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta menyarankan pemerintah agar tidak abai terhadap program mandatori B20. Program B20 adalah pencampuran biodiesel 20 persen pada bahan bakar minyak.

Hal ini mengingat belum lama ini pemerintah telah menghapus sementara kebijakan pungutan ekspor sawit dan turunannya yang sebesar US$ 50 per ton.
Kebijakan tersebut merupakan respons pemerintah atas terus menurunnya harga komoditas sawit di pasar internasional. Di saat harga membaik, pungutan tersebut rencananya diberlakukan kembali.


Kendati demikian, Arif Budimanta mengingatkan agar kebijakan harus tetap berjalan. Hal ini penting, mengingat dalam jangka pendek mampu menghemat devisa dari impor migas dan dalam jangka panjang ramah lingkungan.

"Jangan sampai gara-gara ada penghapusan sementara pungutan ekspor seluruh produk sawit ramai-ramai dikirim ke luar negeri dan B20 yang mandatori dilupakan," ujar Arif dalam keterangan tertulis, Jumat (30/11/2018).


Dia mengingatkan bahwa kebijakan B20 itu merupakan komitmen dari pemerintah yang dapat menghemat devisa, sekaligus menjadi katalis positif bagi suplai kelapa sawit di Indonesia yang tengah dalam kondisi kelebihan pasokan.

Dengan demikian, sawit dari petani juga diharapkan dapat terserap pasar dan harganya menjadi stabil.

Lebih lanjut Arif menjelaskan, program mandatori B20 didukung oleh beberapa kebijakan, di antaranya, insentif dari pungutan ekspor yang yang dikelola oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP KS) untuk menutup selisih harga CPO dan harga bahan bakar diesel.

Selain digunakan untuk menutup perubahan atau selisih (delta) antara harga CPO dan harga bakar diesel, Arif juga mengharapkan anggaran dari BPDP KS tetap disalurkan kepada petani untuk mendorong peningkatan produktivitas pertanian sawit milik mereka.

"Sehingga tidak hanya stabilisasi harga yang dicapai, akan tetapi juga kontinuitas dari produksi kelapa sawit di tingkat petani yang lebih lanjut diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani," ucapnya.

Pasalnya, di tengah pelemahan harga CPO, petani menjadi pihak yang sangat terbebani karena harga jual tidak dapat menutupi biaya operasional yang telah dikeluarkan oleh petani. Oleh karena itu, insentif terhadap petani kelapa sawit sangat diperlukan dan dibutuhkan.

"Penghematan devisa dari B20 sangat bagus untuk perekonomian nasional tapi juga jangan lupakan perekonomian petani juga perlu meningkat dari program yang sangat baik ini," ucapnya.


Tonton juga '95% SPBU Pertamina Sudah Salurkan B20':

[Gambas:Video 20detik]

KEIN: Jangan Abai dengan Program B20
(mul/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed