Eksplorasi dan Produksi Migas Perlu Digenjot Demi Kurangi Impor

Saifan Zaking - detikFinance
Selasa, 18 Des 2018 13:14 WIB
Ilustrasi. Foto: Pradita Utama
Jakarta - Neraca dagang Indonesia pada November tercatat defisit sebesar US$ 2,05 miliar. Defisit ini disebabkan oleh masih tingginya nilai impor minyak dan gas (migas) yang mencapai US$ 1,37 miliar.

Mengurangi angka defisit neraca perdagangan menjadi suatu pekerjaan rumah yang harus dilakukan pemerintah. Untuk bisa mengurangi impor migas dan menjaga defisit neraca dagang, maka pemerintah perlu meningkatkan produksi serta eksplorasi sumber migas.

"Kalau ingin migasnya nggak defisit ya tentu harus tingkatin produksi, kalau mau tingkatin produksi harus tingkatin cadangan, kalau cadangan mau ditingkatkan ya harus meningkatkan eksplorasinya lebih dari sebelumnya," jelas Direktur Eksekutif ReforMiner Komaidi Notonegoro ketika dihubungi detikFinance, Jakarta, Selasa (18/12/2018).

Walau begitu, Komaidi mengakui, meningkatkan produksi migas memang membutuhkan waktu yang tak sebentar. Bahkan, kata dia, produksi tercepat saja memakan waktu hingga 4 sampai 5 tahun.


"Solusinya kan, migas itu nggak ada solusi jangka pendek. Jadi penanganan sekarang tidak menghasilkan sekarang juga, kalau menemukan (sumber) migas, paling cepat produksi itu 4 sampai 5 tahun ke depan, itu paling cepat baru bisa diproduksikan, kalau sekarang nggak ngapa-ngapain ya 4 sampai 5 tahun ke depan defisitnya makin besar," tambahnya.

Ia mengatakan bahwa permasalahan ini harus segera ditangani. Sebab, jika tidak dilakukan maka rupiah akan menjadi tidak stabil terhadap mata uang dunia.

"Tergantung pemerintah, kalau rupiahnya pingin stabil ya ini harus segera ditangani," tutupnya.





Eksplorasi dan Produksi Migas Perlu Digenjot Demi Kurangi Impor
(fdl/fdl)