Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 07 Feb 2019 19:16 WIB

Transportasi Massal Bisa Kurangi Impor Migas, Asal...

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: Achmad Dwi Afriyadi-detikFinance Foto: Achmad Dwi Afriyadi-detikFinance
Jakarta - Besarnya impor migas mesti segera diatasi. Sebab, impor migas membebani neraca perdagangan nasional.

Pakar Energi Fathorahman mengatakan, salah satu cara mengatasi besarnya impor migas ialah melalui penataan transportasi massal, khususnya perkotaan. Namun, penataan transportasi massal ini mesti terencana dengan baik atau tidak terburu-buru alias 'grasak-grusuk'.

Dia menyebut, pengembangan transportasi perkotaan yang grasak-grusuk itu seperti halnya light rail transit (LRT) di Palembang.

"Jangan grasak-grusuk seperti LRT di Palembang. Harus ada perencanaan yang prudent tapi jangan lelet," kata dia di Media Center Prabowo-Sandi Jakarta, Kamis (7/2/2019).

Dia mengatakan, pengembangan LRT Palembang grasak-grusuk karena penghasilan dari tiketnya tak bisa menutupi biaya operasinya.


"Jadi biaya operasinya saja tidak bisa menutupi, atau penghasilan tiketnya tidak bisa menutupi biaya operasinya, belum biaya investasinya. Kalau orang bisa melakukan analisa secara ekonomi, ini pakai hitung-hitungan bagaimana jangan-jangan yang dipakai metode rule of thumb, parah lagi trial and error," ungkapnya.

Selanjutnya, dia menuturkan, cara untuk mengurangi impor migas ialah mendorong pemakaian bahan bakar nabati. Serta mendorong pemakaian kendaraan listrik.

"Pilihannya memang bukan pilihan gampang, sulit. Sebagian sudah dikerjakan pada 2018, misalnya penggunaan biofuel, kemudian sekarang ramai-ramai kelihatannya kendaraan listrik tapi kita lihat policy akhirnya," tutupnya.

(fdl/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed