Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 24 Feb 2019 14:27 WIB

Sembilan Keuntungan dari Proses Akuisisi 51% Saham Freeport

Robi Setiawan - detikFinance
Foto: Grandyos Zafna Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Sebanyak 51% saham PT Freeport Indonesia (PTFI) sudah dimiliki oleh negara. Holding Industri Pertambangan PT Inalum (Persero) pun membeberkan beberapa keuntungan dari adanya proses akuisisi tersebut.

Keuntungan pertama adalah dari sisi finansial. Seperti diketahui Inalum mengeluarkan US$ 3.85 miliar (Rp 54 triliun) untuk akusisi PTFI. Inalum pun memprediksi laba bersih PTFI mencapai di atas US$ 2 miliar per tahun dari 2023 hingga 2041.


"Jika Inalum memiliki 51% maka perusahaan akan diproyeksikan mendulang US$ 18 miliar (Rp 261 triliun) laba bersih dari PTFI dalam kurun waktu tersebut," demikian keterangan tertulis Inalum yang diterima detikFinance, Minggu (24/2/2019).

Berikutnya keuntungan ketiga adalah dari sisi manajemen. Inalum beranggapan setelah PTFI beroperasi selama 51 tahun, kini Indonesia memiliki pengaruh yang signifikan dalam penentuan dividen, anggaran dasar, direksi, dan komisaris.

Ketiga, posisi PTFI kini berada di bawah kendali pemerintah karena status Kontrak Karya telah berubah menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus. Keempat, menguasai tambang dengan cadangan emas terbesar di dunia bernilai US$ 150 miliar atau Rp 2.190 triliun.

Kemudian keuntungan kelima adalah sebanyak 10% saham PTFI dimiliki oleh pemerintah lokal Papua. Hal ini tentunya membuat masyarakat Papua bisa merasakan langsung manfaat dari sumber daya alamnya.

Selanjutnya keuntungan keenam adalah dari sisi penyerapan tenaga kerja lokal. Hingga Maret 2018, jumlah karyawan di PTFI yang secara langsung direkrut oleh PTFI adalah 7.028, yang mana sekitar 2.888 karyawan tersebut adalah orang Papua.

Ketujuh, keuntungan yang kemudian dirasakan adalah dalam hal pengembangan masyarakat setempat. Pada 2018 PTFI berkomitmen untuk membangun masyarakat lokal di daerah operasional. Lalu pada 2017 PTFI total menyumbangkan US$ 44 juta dan US$ 33 juta pada 2016.


Keuntungan kedelapan adalah dari sisi perekonomian daerah Papua. Sekitar 90% kegiatan ekonomi 300 ribu penduduk Kabupaten Mimika bergantung pada operasional PTFI. Di masa depan, pengembangan ekonomi lokal akan menjadi salah satu prioritas agar masyarakat menjadi mandiri.

Terakhir, keuntungan kesembilan yaitu dalam hal pengetahuan dan teknologi. Tambang bawah tanah Grasberg yang dioperasikan oleh PTFI adalah tambang yang paling rumit di dunia. Tambang tersebut menjadi tempat belajar terbaik untuk para ahli tambang di Indonesia, sehingga pengetahuan mereka dapat diterapkan di tambang bawah tanah lain di Indonesia dan di negara lain. (ega/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed