Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 01 Apr 2019 15:05 WIB

ESDM Respons Temuan BPK soal Beda Data Ekspor Minerba

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: Hasan Alhabshy Foto: Hasan Alhabshy
Jakarta - Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan perbedaan jumlah ekspor impor di sektor mineral dan batu bara (minerba). Dalam temuannya, BPK menemukan jumlah komoditas yang diekspor dari Indonesia berbeda dengan negara tujuan.

Merespons hal tersebut, Direktur Jenderal Minerba Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Gatot mengatakan, saat ini tengah menjalin kerja sama lintas instansi untuk menyusun satu data.

"Itu perbedaan data, kita sedang kerja sama BPS, Bea Cukai dan (Kementerian) Perdagangan akan membuat satu data," kata Bambang Gatot singkat di Universitas Indonesia Depok, Jawa Barat, Senin (1/4/2019).
Anggota IV BPK Rizal Djalil memaparkan, ada 4 besar negara tujuan ekspor Indonesia, yakni India, China, Korea Selatan, dan Jepang. Untuk India, dia menyebutkan, pada periode 2017-2018 Indonesia mengekspor komoditas minerba dengan total 174,6 juta ton.

Sementara, jumlah impor India dari Indonesia sebanyak 197,3 juta ton. Artinya, ada selisih 22,7 juta ton.

Begitu dengan China, untuk periode yang sama, Indonesia ekspor 80,8 juta ton. Sementara, jumlah yang diterima di China sebesar 72,9 juta ton. Ada selisih sebanyak 7,9 juta ton.

Lalu, Indonesia mengekspor sebanyak 62,1 juta ton ke Korea Selatan. Jumlah yang diterima di Korea Selatan sebanyak 78,7 juta ton.
Kemudian, di Jepang ada beda selisih 7,8 juta, di mana Indonesia mengekspor 53,1 juta ton sementara yang diterima 60,9 juta ton.

"Ini bukan persoalan Kementerian ESDM, ini persoalan kita semua. Mungkin saya juga harus berkoordinasi temen-temen Kementerian Keuangan, Bea Cukai dan lain sebagainya," kata Rizal.

ESDM Respons Temuan BPK soal Beda Data Ekspor Minerba
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com