Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 01 Apr 2019 18:10 WIB

Prabowo Sebut Caplok Freeport 'Etok-etok', Inalum Tak Bergeming

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Isu pengambilalihan saham PT Freeport Indonesia (PTFI) oleh PT Inalum (Persero) kembali memanas. Itu tak lain karena calon presiden (capres) nomor urut 2 Prabowo Subianto menyebut keberhasilan itu sebagai 'pura-pura' dalam debat capres putaran keempat pekan lalu.

Pasalnya, ia melihat laporan saham Freeport justru memberikan manfaat kepada Amerika Serikat (AS) sebesar 81%. Oleh karena itu, Prabowo menyebut akuisisi ini 'etok-etok'.

"51% saham itu mungkin ya agak etok-etok (bahasa Jawa artinya pura-pura) Pak. Itu laporan dia, New York Stock Exchange," ungkap Prabowo.

Head of Corporate Communication Inalum Rendi Witular memberi penjelasan lengkap terkait hal ini. Dia menjelaskan, manfaat 81% ini terkait dengan participation interest (PI) Rio Tinto sampai tahun 2022. Participation Agreement Rio Tinto- Freeport McMoRan (FCX) ditandatangani tahun 1996 dan akan berakhir di 2022.


"Terkait dengan penjelasan FCX bahwa mereka masih mendapatkan porsi kepentingan hingga 81% sampai 2022, itu ada hubungannya dengan PI Rio Tinto," ungkapnya kepada detikFinance, Senin (1/4/2019).

Dia menjelaskan, Inalum sendiri membeli PI Rio Tinto yang dikonversi menjadi saham di PTFI. Sementara, hak dan kewajiban PI Rio Tinto yang sudah dibeli Inalum tetap melekat hingga kontrak mereka dengan Freeport berakhir di 2022.

"Hak dan kewajiban tersebut meliputi pendapatan 40% jika produksi PTFI melampaui batasan tertentu. Jika PI tersebut tidak diserap dan dikonversi menjadi saham, maka setelah 2022 Rio Tinto akan langsung mendapatkan 40% dari produksi PTFI tanpa batas," ujarnya.

Meski demikian, itu tak membuat Indonesia rugi. Rendi bilang, Inalum justru mendapatkan keuntungan dari PI karena diproyeksikan ada produksi yang melampaui batas antara 2019 dan 2022. Secara dividen, memang akan kecil karena dividen PTFI akan turun drastis antara 2019 hingga 2021 akibat dari peralihan tambang terbuka ke tambang bawah tanah.

"Namun penghasilan dari PI (langsung mendapatkan 40% dari produksi) akan mengkompensasi kecilnya pendapatan dari dividen antara 2019-2022," ungkapnya.

Dia menjelaskan, Freeport McMoRan akan mendapat 81,28% dividen PTFI hingga 2022. Tapi, Inalum mendapatkan hak 40% dari produksi.


Bingung hak produksi dan dividen? Rendi memberikan contoh hak produksi, jika produksi 100 juta ton maka 40 juta ton akan dipotong untuk Inalum. Sementara, hak dividen ialah produksi 100 juta ton dikurangi 40 juta ton sehingga menghasilkan 60 juta ton. 60 juta ton ini nanti dipotong biaya produksi, pajak, dan lain-lain sehingga selisih akhirnya dibagikan sebagai dividen.

"Inalum tidak dapat dividen, tapi dapat kompensasi hak partisipasi. Jadi justru kita untung. Bagian produksi sebesar 40% untuk periode 2019-2022 itu akan disetor FCX kepada Inalum setelah 2023," terangnya.

"Sampai dengan 2022 Inalum akan memperoleh 40% dari ' ex-porsi Rio dan 18,72% dari 'dividen'," tutupnya.



Tonton juga video Prabowo Pilih Panas-panasan daripada Ngadem, Massa Bersorak:

[Gambas:Video 20detik]


Prabowo Sebut Caplok Freeport 'Etok-etok', Inalum Tak Bergeming
(ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com