Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 10 Apr 2019 18:45 WIB

Cara Prabowo Turunkan Tarif Listrik 20% Dikritik: Tak Semudah Itu!

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Petugas PLN mengcek meteran listrik/Foto: Rengga Sancaya Petugas PLN mengcek meteran listrik/Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Rencana calon presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto menurunkan tarif listrik 20% untuk pelanggan 450 dan 900 VA dinilai tidak mudah. Apalagi, penurunan tarif ini dilakukan dengan mengatur harga batu bara.

"Saya kira tidak semudah itu menurunkan tarif listrik sebesar 20% kalau memang skema yang ditawarkan bukan subsidi tapi sektor hulu," kata Pengamat Energi Mamit Setiawan kepada detikFinance, Rabu (10/4/2019).

Mamit menjelaskan, saat ini, harga energi primer batu bara untuk listrik sudah dipatok US$ 70 per ton. Harga ini sudah di bawah harga pasar.


Jika harga itu diatur kembali belum tentu pengusaha batu bara setuju karena sudah berhitung investasi untuk produksinya.

"Saya bukannya tidak yakin, itu bisa terjadi dalam arti bisa menurunkan harga energi primer. Tapi, saat ini saja kan sudah diatur harga batu bara US$ 70 per ton di mana sudah di bawah harga keekonomian, di bawah harga pasar," terangnya.

"Kalaupun memang nanti dibuat satu kebijakan lagi, dengan harga patokan untuk DMO (Domestic Market Obligation) PLN misalnya, dibuat menjadi di bawah 70 apakah nanti para produsen batu bara setuju dengan harga tersebut. Bagaimana pun mereka akan berhitung terkait investasi yang dilakukan, berapa biaya pokok produksi mereka untuk menghasilkan 1 ton batu bara," sambung Mamit.


Dia menambahkan, dengan patokan harga US$ 70 saat ini saja masih ada pengusaha yang kurang senang karena keuntungan yang mereka dapatkan kecil.

Dia menambahkan beberapa perusahaan besar batu bara saat ini tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), kebijakan harga batu bara berisiko terhadap penurunan harga saham.

"Sekarang saja US$ 70 pun banyak yang kurang happy. Karena menurut mereka terlalu kecil margin yang didapatkan, Dengan misalkan dikurangi kembali batu bara untuk PLTU apakah mereka mau, yang jelas mengurangi margin mereka," kata Mamit

"Apa lagi beberapa perusahaan besar batu bara adalah tercatat di BEJ (sekarang BEI). Ini pasti terkait saham mereka. Ketika DMO sangat murah otomatis saham mereka bisa saja anjlok atau bisa saja mengalami penurunan," tuturnya.

(hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed