Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 17 Apr 2019 13:33 WIB

Pak Jonan, Sudah Nonton Film Sexy Killers?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan/Foto: Sylke Febrina Laucereno Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan/Foto: Sylke Febrina Laucereno
Jakarta - Beberapa waktu terakhir, film berjudul Sexy Killers ramai diperbincangkan. Banyak kalangan juga yang menggelar nonton bareng serta diskusi.

Judul film ini membuat orang bertanya-tanya tentang apa. Film ini bercerita tentang listrik dan membahas dampak penambangan batu bara oleh perusahaan besar yang berhubungan dengan petinggi di Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengaku sudah mengetahui film tersebut, namun ia belum sempat menontonnya.

"Tulisan judulnya kan Sexy Killers, kalau di rumah saya mau buka (film Sexy Killers), tapi takut juga, kalau dilihat istri waduh dikira nonton apa itu, kok ada 'sexy-sexy'-nya. Jadi batal deh nontonnya, nanti saja saya tonton," ujar Jonan usai mencoblos di TPS 099 SDN Cipete Utara, Jakarta, Rabu (17/4/2019).


Namun Jonan menegaskan soal pertambangan dan dampaknya, hingga saat ini ia sudah membuat peraturan terkait hal tersebut. Misalnya jika ada perusahaan yang tidak berkomitmen untuk menjamin reklamasi maka tak akan ditanggapi oleh Kementerian ESDM.

"Saya sudah bilang ke semua pemegang konsesi tambang, mereka harus melakukan kegiatan reklamasi dan konservasi lingkungan sesuai dengan peraturan. Arahan presiden juga begitu," tuturnya.

Dia meyakini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mendorong hal yang sama.

"Saya harap LHK juga jauh lebih keras untuk penegakan hukumnya karena penegakan hukum merupakan wewenangnya," imbuh dia.


Sekadar informasi, film yang diproduksi oleh Watchdoc ini berdurasi 1 jam 28 menit. Film ini menampilkan sisi lain dari pertambangan batu bara.

Masyarakat dekat lokasi tambang batu bara terdampak mulai dari retaknya rumah karena lokasi tambang yang terlalu dekat. Hal tersebut memberikan efek bagi mereka.

Produksi batu bara di Kalimantan kemudian dikirim ke PLTU menggunakan kapal tongkang. Begitu sampai di PLTU, uap batu bara menggerakkan turbin untuk menghasilkan listrik namun polusinya mencemari udara sekitar. (kil/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed