Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 31 Mei 2019 15:40 WIB

Balik Serang AS, China Tahan Ekspor Komponen Produksi Senjata

Vadhia Lidyana - detikFinance
Foto: Internet/ebcitizen.com Foto: Internet/ebcitizen.com
Jakarta - China mulai mempersiapkan serangan balik kepada Amerika Serikat (AS) atas seruan perang dagang. Salah satu langkahnya yakni menahan ekspor logam tanah jarang yang sebagian besar dapat ditemukan di China.

Dikutip dari CNN, Jumat (31/5/2019), China memberikan peringatan kepada AS bahwa mereka juga dapat mengontrol rantai pasokan global mineral langka tersebut.

Sebetulnya, tambang logam tanah jarang tersebut juga dapat ditemukan di negara lain, namun berbahaya untuk ditambang. Namun, logam tanah jarang terbilang mudah ditemukan di China karena kandungan kekayaan mineral langkanya.

Selain itu, peraturan yang berkaitan dengan lingkungan hidup di China tak terlalu ketat sehingga, China menjadi negara yang mengendalikan 90% produksi logam tanah jarang di seluruh dunia.


Logam tanah jarang bersifat magnetik dan konduktif yang digunakan menjadi komponen utama dalam pemberian daya terhadap sebagian besar perangkat elektronik atau gadget, yakni ponsel, tablet, speaker, dan sebagainya.

Selain itu, logam tanah jarang juga menjadi komponen penting dalam sebagian besar sistem persenjataan AS, di antaranya adalah laser, sonar, radar, kacamata malam atau night vision, sistem peluncuran rudal, mesin jet, dan juga kendaraan berlapis baja.

"China secara strategis membanjiri pasar global atas produksi mineral langkanya dengan harga yang ekonomis. Cina mampu mengusir pesaing dan menghalau masuknya pasar baru," menurut keterangan tertulis dari pangkalan pertahanan nasional AS, Pentagon, kepada Presiden AS Donald Trump.

Badan Perencanaan Ekonomi China mengisyaratkan pemerintah untuk segera mengekang ekspor logam tanah jarang kepada AS di tengah perang dagang ini.

"Jika ada yang ingin membuat produk dengan bahan dari logam tanah jarang yang diekspor oleh China, namun negara tersebut justru ingin menahan dan menekan pertumbuhan dan pembangunan China, saya pikir masyarakat China sendiri tak akan menyukai hal itu," kata Komisi Pembangunan Nasional dan Reformasi China.


Sebetulnya, China dapat mengalami kerugian besar apabila menghentikan ekspor logam tanah jarang ke AS. Namun, menurut Lembaga Survei Geologi AS, China pun mengetahui bahwa AS akan mengalami kerugian yang lebih besar apabila tak dapat mengimpor mineral langka dari China.

Sebelumnya, China juga pernah menghentikan ekspor logam tanah jarang ke Jepang karena konflik perebutan pulau pada 2010.

Melihat kondisi pasar, saham perusahaan-perusahaan yang menambang dan mengolah logam tanah jarang melonjak. Saham JL Mag Rare-Earth di Shenzhen meningkat hingga 10%. (ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com