Pastikan Bisa Turun Jadi US$ 6, Luhut Beberkan Penyebab Gas Mahal

Soraya Novika - detikFinance
Senin, 06 Jan 2020 22:30 WIB
Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan/Foto: Muhammad Ridho
Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam rapat terbatas siang tadi, Senin (6/1/2020) nyaris berkata kasar lantaran kecewa dengan mahalnya harga gas industri. Jokowi menyebut gas merupakan modal pembangunan industri nasional jadi seharusnya harganya tidak terlalu mahal agar industri dalam negeri bisa bersaing.

Merespons hal tersebut, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan pun memastikan harga gas turun pada Maret 2020 men. Dia menargetkan harga gas industri dapat mencapai level US$6 per Million Metric British Thermal Unit (MMBTU).

"Presiden memberi kami target 3 bulan harus selesai, Maret harus selesai. Jadi saya challenge (tantang) awal Maret kami sudah bisa selesai, jadi kami mau harga gas di US$6," tutur Luhut di kantor Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Jakarta, Senin (6/1/2020).


Luhut yakin harga tersebut dapat tercapai meskipun harga gas industri di hulu sudah relatif tinggi.

"Ya dari awal sudah banyak maling di sana," sambungnya.

Menurutnya, salah satu penyebab tingginya harga gas industri adalah biaya tumpang tindih alias redundant cost.

"Kami sedang exercise (uji coba), sebetulnya dulu sudah kami exercise waktu saya jadi Menteri ESDM, tapi waktu itu berhenti karena harga kontrak hulu sudah macam-macam, tidak jelas," ucapnya.

Untuk diketahui, harga gas industri dalam negeri sudah diatur oleh pemerintah. Hal tersebut tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2016 mengenai Penetapan Harga Gas Bumi untuk Industri Tertentu sebesar US$6 per MMBTU.



Simak Video "Bio Gas dari Limbah Tahu di Banyumas"
[Gambas:Video 20detik]
(hns/hns)