Tak Semua Industri Nikmati Harga Gas Murah, Ini Daftarnya

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Senin, 27 Jan 2020 23:15 WIB
Petugas PGN melakukan pengecekan rutin gas engine di Plaza Indonesia, Jakarta, Rabu (10/8). Saat ini PGN terus memperluas penyaluran gas ke masyarakat, salah satunya ke pusat perbelanjaan.
Distribusi gas bumi/Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR, Menteri ESDM Arifin Tasrif buka-bukaan seputar struktur harga gas bumi. Berdasarkan Perpres No 40 Tahun 2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi, mencakup sejumlah komponen yakni harga gas hulu ditambah biaya penyaluran (transmisi dan distribusi), ditambah biaya niaga.

"Terkait implementasi Perpres 40 tahun 2016 tentang penerapan harga gas bumi, harga gas terdiri harga gas hulu, ditambah biaya penyaluran biaya transmisi, ditambah biaya niaga," kata Arifin di Komisi VII DPR Jakarta, Senin (27/1/2020).

Sejumlah komponen itu diatur dalam beberapa aturan yang berbeda. Kemudian diketahui, harga gas hulu sebesar US$ 3,40 - US$ 8,24, biaya transmisi US$ 0,02 - 1,55, biaya distribusi US$ 0,20 - 2,00, biaya niaga US$ 0,24 - 0,58, dan iuran usaha US$S 0,02-US$ 0,06.

Sejumlah industri yang telah mendapatkan gas dengan harga sesuai dengan Perpres No 40 yakni industri pupuk, petrokimia dan baja.


Lebih rinci, untuk industri pupuk yang telah mendapat penyesuaian harga gas yakni PKT 1-4 US$ 3,99/MMBTU, Pusri US$ 6/MMBTU, PIM US$ 6/MMBTU, dan Kujang US$ 5,84/MMBTU.

Lalu untuk petrokimia PKG US$ 6/MMBTU, KPI US$ 4,04/MMBTU, KMI US$ 3,11/MMBTU, dan PAU US$ 4/MMBTU. Kemudian untuk baja pada Krakatau Steel US$ 6/ MMBTU.

"Untuk industri lain harga gas yang belum disesuaikan yaitu industri keramik, kaca, sarung tangan karet dan oleokimia," kata Arifin.



Simak Video "Gas 3 Kg Langka, Warga Parepare Berdesakan di Agen Penjualan"
[Gambas:Video 20detik]
(hns/hns)