Proyek 'Kebun Angin' di China Diganggu Virus Corona

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 17 Feb 2020 15:20 WIB
Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Desa Mattirotasi, Kecamatan Wattang Pulu, Kabupaten Sidrap, Sulsel, kini jadi destinasi wisata baru. Yuk lihat.
Ilustrasi/Foto: Hasrul Nawir
Jakarta -

Wood Mackenzie memproyeksi target pembangunan proyek pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) alias 'kebun angin' di China molor 10-50% pada tahun ini. Meluasnya penyebaran virus Corona dalam beberapa pekan terakhir menghambat proses produksi komponen pembangkit yang akan dipakai untuk pembangunan.

Meskipun kapasitas produksi di Hubei terbatas, namun karantina dan pembatasan travel di China menambah hambatan distribusi komponen produksi pembangkit.

Hal ini tidak hanya menjadi berita buruk bagi China, melainkan juga Amerika Serikat mengingat kedua negara tersebut adalah konsumen terbesar listrik yang dihasilkan dari angin.

Apalagi, pengembang di Amerika dan China sedang mengebut pembangunan PLTB untuk memberikan subsidi listrik di negaranya.

Konsultan senior Wood Mackenzie, Xiaoyang Li mengatakan virus corona membuat produksi komponen pembangkit menurun. Apalagi sebelumnya produksi kuartal pertama sudah turun sekitar 10%.

"Penundaan produksi kuartal pertama telah mengurangi produksi tahunan komponen tersebut sekitar 10%. Komponen tanpa hambatan yang sudah ada sebelumnya, seperti generator dan konverter, harus dapat pulih dari penundaan Q1 jika wabah dikendalikan dalam beberapa bulan ke depan," kata Xiaoyang seperti dikutip detikcom dalam keterangannya, Senin (17/2/2020).

"Berdasarkan dua kemungkinan ini, kami memperkirakan penundaan produksi di seluruh rantai pasokan turbin angin akan menghasilkan penurunan 10-50% pada instalasi angin 2020 di China, dibandingkan dengan perkiraan tenaga angin Q4 2019 kami, yang berada pada 28 gigawatt (GW) kapasitas," tambahnya.

Untuk pasar non-China, Asia Pasifik, dampak langsung virus corona minimal berdasarkan pada jumlah kasus yang dilaporkan terbatas dan langkah-langkah penahanan ekstrem diambil untuk membatasi penyebaran virus. Produksi 'kebun angin' ini perlu memperkuat rantai pasokan domestiknya atau impor dari daerah berbiaya rendah lainnya seperti India, Vietnam, dan Eropa Selatan.



Simak Video "Tips Aman Berkegiatan Sehari-hari Agar Bebas Virus Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)