Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 01 Mar 2020 07:28 WIB

Negara Kurangi Penerimaan Demi Gas US$ 6, Bagaimana Biar Nggak Tekor?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
eksplorasi gas Foto: shutterstock
Jakarta -

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menilai rencana pemerintah untuk menurunkan harga gas industri menjadi US$ 6 per Milion British Thermal Unit (MMBTU ) atau setara dengan Rp 85.662 per MMBTU (asumsi Rp 14,277 per US$) harus diseimbangkan dengan penerimaan pajak industri.

Menurut Tauhid Ahmad penurunan harga gas akan mengurangi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor minyak bumi dan gas (migas). Untuk itu, diperlukan penambahan pajak dari industri yang menggunakan bahan bakar gas tersebut.

"Harus diseimbangkan, antara penerimaan di hulu dengan pajak industri," katanya usai diskusi yang digelar Indef, Kamis (27/2/2020).

Lebih jauh Tauhid mengingatkan, sebelum diputuskan besaran penurunan harganya, pemerintah harus menghitung secara cermat dampaknya dan itu harus realistisi.

"Saya kira harus realistis, mungkin tidak US$ 6 per MMBTU, tapi di harga yang paling menguntungkan semua pihak," lanjutnya.

Sebagai negara eksportir gas, Tauhid menilai harga gas industri Indonesia tergolong mahal. Namun ia beralasan mahalnya harga gas itu salah satunya karena lokasi sumber gas yang berada di pulau-pulau yang menguras harga produksi. Sementara 70 persen harga gas hilir dipengaruhi oleh harga gas di hulu tersebut.

"Saat ini harga gas industri berada pada rentang US$ 9 - US$ 12 atau sekitar Rp 125.676-Rp 167.568 per MMBTU. Angka itu jauh diatas harga gas internasional yang berkisar US$ 5 per MMBTU - US$ 4 per MMBTU atau cenderung berdekatan dengan fluktuasi harga minyak dunia," lanjut Tauhid.

Ia kemudian mencontohkan di Thailand harga gas di hulu sebesar US$ 7 per MMBTU dan Malaysia sebesar US$ 5,5 per MMBTU. Bahkan, China yang notabene memiliki ekonomi kuat pun mematok harga gasnya di US$ 8 per MMBTU. Belum termasuk biaya penyaluran gas melalui pipa atau non pipa. Sementara harga gas di Singapura justru di atas US$ 15 per MMBTU.

Terkait dengan wacana penurunan harga gas ini, sesuai PeRp res Nomor 40 tahun 2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi, terdapat tujuh industri yang berhak mendapatkan harga gas US$ 6 per MMBTU, yaitu pupuk, petrokimia, oleochemical, industri baja, industri keramik, industri kaca, dan industri sarung tangan karet.



Simak Video "Bio Gas dari Limbah Tahu di Banyumas"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com