Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 09 Mar 2020 07:32 WIB

Proyek Jambaran-Tiung Biru Rp 21,5 T Beroperasi Agustus 2021

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Jimbaran Tiung Biru Foto: Dok. SKK Migas
Bojonegoro -

Proyek Jambaran-Tiung Biru (JTB) diprediksi onstream Agustus 2021. Proyek tersebut nilainya US$ 1,53 miliar (Rp 21,5 trilun).

Untuk mengawal agar proyek JTB dapat direalisasi sesuai target, Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto melakukan kegiatan Management Work Through (MWT) di proyek strategis nasional yang berada di Bojonegoro Jawa Timur tersebut.

Pada kunjungan kerja tersebut, Dwi didampingi Deputi Operasi Julius Wiratno, Penasehat Ahli Satya W Yudha, Kepala Unit Percepatan Proyek JTB Waras Budi Santosa dan Kepala Perwakilan SKK Migas Jabanusa Nurwahidi.

Proyek JTB adalah salah satu dari empat proyek strategis nasional di sektor migas yang ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) melalui Keppres no 56 tahun 2018. Penyelesaian proyek JTB akan turut memberikan kontribusi yang signifikan bagi penambahan produksi migas nasional.

Pada kesempatan tersebut, Dwi menyampaikan bahwa realisasi proyek-proyek hulu migas yang akan mendukung peningkatan produksi, mendapat perhatian khusus dari Jokowi.

"Pada Rapat Terbatas 4 Maret 2020 dengan salah satu agenda peningkatan produksi migas nasional, Presiden Joko Widodo telah meminta proyek strategis nasional dapat segera diselesaikan. Untuk itu, SKK Migas akan meningkatkan pengawasan agar proyek strategis nasional sektor migas dapat selesai pada waktu yang telah ditetapkan, bahkan kalau bisa bisa dipercepat," kata Dwi dalam keterangan tertulis yang dikutip, Senin (9/3/2020).

Dwi menambahkan, peningkatan pengawasan akan ditunjukkan SKK Migas melalui kunjungan lapangan oleh manajemen SKK Migas setiap akhir pekan.

"Langkah ini untuk memastikan agar proyek dapat selesai sesuai jadwal dan biaya yang efisien," kata Dwi.

Proyek JTB ini dioperasikan oleh Pertamina EP Cepu (PEPC). Per Februari 2020, jumlah tenaga kerja yang terserap di proyek JTB adalah sekitar 4.470 orang.


Direktur Utama PEPC Jamsaton Nababan menyampaikan proyek JTB memiliki tantangan yang sangat besar sehubungan dengan adanya potensi pembentukan hydrate pada desain awal proyek, yang mengakibatkan perlunya dilakukan beberapa optimasi.

"Terima kasih kepada SKK Migas yang telah membantu melewati masa sulit tersebut, sehingga pada akhirnya pembangunan EPC JTB dapat dilanjutkan oleh kontraktor baru yaitu Rekayasa Industri, kata Jamsaton

Untuk mengawal agar proyek berjalan lancar, Pertamina mengintensifkan koordinasi dengan Kontraktor EPC dan menempatkan inspektur pengawas di workshop yang dimiliki vendor. Mekanisme ini untuk mengejar ketertinggalan target, dan proyek tetap dapat dibangun dengan kualitas terbaik dan mendukung kehandalan operasi kilang JTB saat nanti berproduksi.

Direktur Operasi REKIND Jakub Tarigan pada laporannya menyampaikan, sejak ditunjuk sebagai kontraktor pembangun EPC, pihaknya telah berkoordinasi dengan SKK Migas dan Pertamina, sehingga keterlambatan proyek per Februari 2020 bisa diperpendek hanya 0,66%, atau telah ada percepatan sebesar 19,3%.



Simak Video "Berkaca SKK Migas dari Pabrik Petrokimia Milik Malaysia"
[Gambas:Video 20detik]
(ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com