Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 13 Mar 2020 09:36 WIB

Sektor Tambang Masih Tahan Gempuran Corona?

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Sejumlah pekerja melakukan bongkar muat batu bara menggunakan alat berat di pelabuhan krakatau bandar samudera, Cigading, Cilegon (8/3/2013). Direktur Jendral Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi Sumber Daya Manusia (ESDM), Thamrin Shite mengatakan untuk mengendalikan produksi batu bara, pemerintah menetapkan kuota produksi secara nasional. File/detikFoto. Ilustrasi/Foto: Hasan Alhabshy

Bagaimana Produksi Tambang RI?

Kementerian ESDM mencatat realisasi produksi tembaga pada tahun 2019 sebesar 176.400 ton. Angka ini jauh di bawah realisasi tahun 2018 sebanyak 230.923 ton. Sementara, target produksi tahun ini 291.000 ton.

Bambang Gatot mengatakan, penurunan tersebut dipengaruhi oleh PT Freeport Indonesia (PTFI) di mana perusahaan sedang melakukan transisi produksi dari tambang terbuka menjadi bawah tanah.

"Tembaganya mengalami penurunan, semua tahu Freeport masa transisi dari open pit ke underground, moga-moga 2020 naik lagi. Dan nanti 2022 mencapai puncaknya artinya ideal," kata Bambang.

Kemudian, produksi emas terus mengalami kenaikan dari 97,44 ton di 2015 menjadi 108,2 ton di 2019. Tahun ini produksi emas ditargetkan 120 ton.

Selanjutnya, produksi olahan nikel naik tajam dari 358.494 ton di 2015 menjadi 1.786.400 di tahun 2019. Rencana produksi olahan nikel tahun ini mencapai 2.023.490 ton.

"Nikel ini adalah nikel olahan, dengan banyaknya smelter yang mulai terbangun kita mengalami kenaikan dari 2015 ke 2020," paparnya.

Halaman
1 2 Tampilkan Semua


Simak Video "Pasien Corona di Mamuju Kabur: Dijemput Petugas, Dilawan Keluarga!"
[Gambas:Video 20detik]

(acd/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com