Minta CSR Tambang Dihapus, Faisal Basri: Jadi Akal-akalan Politisi

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 15 Apr 2020 17:20 WIB
Faisal Basri Berbicara Mengenai Sektor Energi dan Industri

Pengamat Ekonomi, Faisal Basri melakukan bincang bersama wartawan perihal Holding BUMN Migas di Jakarta, Jumat (16/3/2018).


Selain berbicara mengenai Holding BUMN Migas Mantan Ketua Tim komite Tata Kelola Migas Faisal Basri berbicara mengenai isu isu di sektor energi dan industri. Grandyos Zafna/detikcom
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Ekonom senior Faisal Basri menilai UU Perseroan Terbatas (UU PT) yang mewajibkan melaksanakan Corporate Social Responsibility (CSR) harus ditiadakan, terutama untuk perusahaan sektor pertambangan.

Faisal menyebut seharusnya sektor pertambangan membuat sovereign wealth fund (SWF) atau badan usaha pengelola investasi negara yang bisa digunakan untuk membiayai berbagai proyek di Indonesia di masa mendatang.

"Saya cenderung UU PT itu kita hapus saja pasal tentang CSR-nya. Komitmen kita bukan CSR untuk yang sekarang, tapi menabung untuk menyisihkan kekayaan alam ini buat generasi mendatang supaya mereka juga bisa menikmati," ujar Faisal melalui akun YouTube INDEF, Rabu (15/4/2020).

Selama ini menurutnya CSR pertambangan dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Dana CSR dinilai hanya untuk peluang korupsi.

"Kalaupun mereka (sektor pertambangan) keluarkan CSR nanti lewat partai-partai, lewat politisi-politisi, kan jadi rusak. Jadi CSR ini adalah akal-akalannya politisi yang makin susah korupsi karena ada KPK mereka cari sumber lain," ucapnya.

Menurutnya, itu lah yang membuat beban negara semakin besar. Seharusnya CSR betul-betul dijadikan sebagai inisiatif dari perusahaan.

"Jadi ayo lah kita berpikir secara sehat, benalu-benalu, virus-virus tanda petik itu kita hilangkan. Itu lah yang membuat beban semakin lama semakin besar. Ayo kita perlakukan CSR sebagai inisiatif yang muncul dari perusahaan dalam bentuk investasi," tambahnya.



Simak Video "Soal CSR, Alex Noerdin: Kenapa Dibesar-besarkan, Apa Yang Salah?"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)