Booming Minyak di AS Tinggal Kenangan...

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 24 Apr 2020 12:41 WIB
Cina Borong Minyak Dunia Saat AS Tutup Keran Impor
Foto: DW (News)
Jakarta -

Pekan ini dunia digegerkan dengan harga minyak yang anjlok ke angka minus. Puncaknya, ketika harga minyak patokan Amerika Serikat (AS) West Texas Intermediate (WTI) berada dalam nilai negatif US$ -37,6 per barel. Hingga menjadikan harga minus terparah dalam sejarah perdagangan minyak dunia.

Industri minyak dan gas kini memang telah dihantam dan tertekan akibat krisis pandemi Corona (COVID-19). Selain itu, keengganan negara-negara penghasil minyak utama untuk menyetujui pemotongan produksi yang diperlukan untuk mengangkat harga minyak. Dikutip dari CNN, Jumat (24/4/2020).

Masalah ini berawal dari perseteruan perang harga oleh Rusia dan Arab Saudi. Setelah pertemuan OPEC pada awal Maret, di mana Rusia tidak setuju dengan rencana Saudi untuk mengurangi produksi, Saudi memulai perang harga dengan Rusia dan sekutunya. Sejak itu, harga minyak telah jatuh.

Bagi sebagian besar produsen migas di AS untuk menjaga bisnisnya, mereka mematok harga minyak rata-rata untuk WTI harus berkisar antara US$ 40 hingga US$ 45 per barel. Sebaliknya, harga minyak Saudi menjadi terendah di dunia dengan rata-rata US$ 8,98 per barel dan biaya produksi Rusia rata-rata US$ 19,21 per barel.

Jika AS tetap bersikeras dengan nilai tersebut guna menutupi biaya produksi dalam lingkungan ekonomi global yang tertekan. Hal tersebut akan membuat produsen migas Amerika kekurangan uang tunai untuk dividen pemegang saham dan biaya dasar perusahaan.

Efeknya telah terlihat, diprediksi sekitar 100 perusahaan migas di AS akan terancam bangkrut jika harga untuk Western Texas Intermediate tetap di bawah $ 40 per bare. Diperkirakan antara Maret dan Mei, produksi minyak mentah AS akan turun dari 12,7 juta barel per hari menjadi 11,9 juta barel per hari, kerugian dapat mencapai 800.000 barel per hari.

Intinya, julukan AS sebagai produsen minyak mentah terbesar di dunia dalam beberapa tahun terakhir telah berakhir. Daerah-daerah seperti Permian Basin, penghasil minyak terbesar di AS berbiaya rendah yang terletak di Texas akan mengalami kehancuran besar. Produsen telah dibebani dengan utang yang banyak, diperdagangkan pada tingkat tertekan dan secara efektif menutup jalur kredit oleh bank.


Akibatnya, cita-cita AS untuk menjadi negara merdeka di sektor energi segera memudar. Pemerintah AS perlu berkolaborasi dan mencari bantuan ke negara-negara yang berpengaruh pada bisnis minyak mentah.

Dengan demikian, AS akan dipaksa untuk merancang ulang kebijakan ekonomi luar negeri untuk menghadapi kenyataan baru di sektor energi ini.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Harga Minya Dunia Anjlok, Jokowi: Manfaatkan Peluang Ini"
[Gambas:Video 20detik]