Harga BBM di Indonesia Bisa Turun, tapi...

Trio Hamdani - detikFinance
Senin, 15 Jun 2020 23:00 WIB
Warga membeli bbm subsidi jenis premium di SPBU Pertamina, Otista, Jakarta Timur, Jumat (15/11/2019). Pertamina berharap penyaluran BBM Bersubsidi tepat sasaran. Sebab yang terjadi di lapangan hingga kini BBM Bersubsidi masih banyak dikonsumsi oleh masyarakat yang secara ekonomi tergolong mampu.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Harga BBM di Indonesia belakangan dikritik karena tak kunjung turun di tengah pelemahan harga minyak dunia.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati pun mengungkapkan pihaknya bisa saja menurunkan harga BBM alias menjualnya dengan harga yang lebih murah daripada saat ini. Namun ada hal yang akan dikorbankan untuk itu.

"Sebetulnya bagi Pertamina kalau ingin, simpel saja harga itu murah, tentu cost of production-nya kita cari yang semurah mungkin, kita beli saja yang murah, kita tutup semua kilang, kita tutup hulu migas yang ada," kata dia dalam diskusi virtual yang disiarkan langsung di Facebook, Senin (15/6/2020).

Dia mengakui bahwa faktanya hari ini, produk minyak yang dihasilkan Pertamina lebih mahal daripada yang djual oleh Amerika Serikat. Tapi hal itu disebabkan negara Paman Sam sedang kelebihan pasokan alias oversupply.

"Mereka di sana itu sudah kelebihan produksinya, karena menutup produksi itu jauh lebih mahal dibanding membuang minyaknya itu sendiri. Makanya mereka itu bilang 'ambil deh ini minyak di sini, saya tidak bisa setop dan saya tidak punya tempat penyimpanan, gratis tapi ambil ya ke Amerika'. Kira-kira begitu karena mereka nggak mau setop (produksi) juga," jelasnya.

Menurutnya bisa saja Pertamina berfungsi layaknya trader, kerjaannya hanya membeli-beli minyak dari negara lain ketika harganya murah.

"Tapi kemudian kalau hulu migas ditutup, kilang-kilang ditutup, kita akan kembali lagi ke zaman dulu, tergantung dengan impor, dan ketika harga minyak (dunia) naik lagi, ini kan akan merangkak naik, terus kita terlambat lagi, terus kita teriak-teriak lagi 'ini mafia nih mafia sukanya impor' gitu," ujarnya.

Lalu, lanjut dia bisa dibayangkan jika negara pemasok minyak ke Indonesia tiba-tiba lockdown di tengah pandemi COVID-19, Indonesia bisa kehabisan pasokan.

"Jadi maksud saya begini, dalam situasi ini kita kan juga harus tetap melihat ke depan secara jangka panjang tentang kemandirian energi, ketahanan (energi)," sebutnya.

Dia pun menilai bahwa tidak bisa selalu membandingkan harga minyak di negara lain yang lebih murah dibandingkan Indonesia.

"Kecuali kalau kita memang ini trader ya, trading company. Trading company mudah sih beli jual beli jual. Tapi apa kabarnya dengan ketahanan dan kemandirian energi? ya kan Pertamina kan BUMN, dan harus meng-create job, meningkatkan ekonomi nasional, menghasilkan ekosistem dan segala macam," tambahnya.



Simak Video "Detik-detik Truk Tangki Meledak Saat Warga Berebut BBM"
[Gambas:Video 20detik]
(toy/dna)