Ternyata Ini Biang Kerok Harga Gas Sulit Turun ke US$ 6/MMBTU

Trio Hamdani - detikFinance
Selasa, 16 Jun 2020 06:58 WIB
Direktur Utama PT Pertamina Gas Hendra Jaya (kiri) bersama operator memeriksa instalasi pipa gas di Stasiun Kompresor Gas Cambai, Prabumulih, Sumatera Selatan, Jumat (21/8). Fasilitas yang berdiri sejak tahun 1970 ini merupakan salah satu pendukung PT Pertamina Gas dalam memasok kebutuhan gas untuk kebutuhan pembangkit listrik milik PLN dan pabrik Pupuk Pusri. Agung Pambudhy/Detikcom.
Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy

Bukhori menjelaskan sejumlah prosedur agar industri tertentu mendapatkan harga gas murah senilai US$ 6 per MMBTU. Industri pengguna gas ini tentunya harus mengusulkan ke Kementerian Perindustrian. Syarat yang harus dipenuhi, antara lain melengkapi syarat administrasi dan menyampaikan laporan tahunan. Kemudian Kemenperin akan melakukan peninjauan.

"Kita harapkan Perindustrian juga bisa memverifikasi, bisa mengevaluasi sehingga muncul rekomendasi ke pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM bahwa memang industri-industri yang diusulkan oleh Kemenperin ini benar-benar yang layak untuk diberikan harga tertentu," kata dia.

Kemudian Kementerian ESDM juga akan melakukan verifikasi lanjutan sebelum menyetujui industri mendapatkan harga gas murah. Menteri ESDM akan mengkoordinasikan secara internal dan dengan Kementerian Keuangan.

"Ini yang diharapkan ke depannya ada keterlibatan semua pihak ya, stakeholder, bukan hanya Perindustrian, bukan hanya ESDM tapi juga Kementerian Keuangan untuk sama-sama mengawal bahwa harga gas tertentu ini diberikan terhadap industri yang benar-benar layak gitu ya," jelasnya.

Halaman


Simak Video "Gas Elpiji 'Melon' Langka di Parepare, Warga Rela Antre agar Kebagian"
[Gambas:Video 20detik]

(toy/ara)