Penerimaan Negara dari Hulu Migas Diramal Cuma Capai Segini...

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 18 Jun 2020 19:20 WIB
Ilustrasi sektor migas
Foto: Ilustrasi Migas (Fauzan Kamil/Infografis detikcom)
Jakarta -

Penerimaan negara dari sektor hulu minyak dan gas (migas) bumi memerah. Bahkan target kinerja hulu migas diproyeksi tidak satupun tercapai.

Penerimaan negara diperkirakan hanya menyentuh US$ 5,86 miliar pada akhir 2020 atau hanya sekitar 40,5% dari target APBN sebesar US$ 14,46 miliar.

Target APBN 2020 mengacu pada target lifting minyak sebesar 755.000 barrel oil per hari (bph) dan 1.191 (Million Barrel Oil Equivalent Per Day/MBOEPD). Selain itu, asumsi harga minyak pada target APBN sebesar US$ 63 per barrel.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan perkiraan penerimaan negara 2020 mengacu pada asumsi harga minyak sebesar US$ 38 per barrel dan sudah menyesuaikan implementasi Peraturan Menteri ESDM No. 8/2020 serta Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 89/2020 untuk harga gas.

"Ini angka-angka yang bersifat sementara, kami minta dukungannya (agar itu tidak terjadi)," tutur Dwi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII, Kamis (18/6/2020).

Jauhnya proyeksi penerimaan negara dari hulu migas disebabkan penurunan harga minyak hingga US$ 38 per barrel atau menggerus penerimaan negara sebesar US$ 4,95 miliar.

Terkait distribusi penerimaan 2020, posisi Mei (ytd) pendapatan bagian pemerintah sebesar US$ 4,1 miliar, sementara Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) sebesar US$ 2,17 miliar. Di sisi lain, cost recovery tercatat US$ 3,53 miliar.

"Outlook 2020 kami masih menggunakan asumsi ICP di US$ 38 per barrel kemudian penerimaannya adalah US$ 17,86 miliar di mana pendapatan kontraktor US$ 3,98 miliar, negara US$ 5,86 miliar dan dan cost recovery sebesar US$ 8,12 miliar," jelasnya.



Simak Video "Kepala BPH MIGAS Ajak Masyarakat Optimistis Sambut New Normal"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)