Terpopuler Sepekan

Soal Rare Earth, 'Harta Karun' RI yang Dibahas Luhut-Prabowo

Soraya Novika - detikFinance
Sabtu, 27 Jun 2020 16:15 WIB
FILE PHOTO: A bastnaesite mineral containing rare earth is pictured at a laboratory of Yasuhiro Kato, an associate professor of earth science at the University of Tokyo, July 5, 2011. REUTERS/Yuriko Nakao/File Photo
Ilustrasi/Foto: Reuters
Jakarta -

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan buka suara terkait pertemuannya dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto pekan lalu. Menurut Luhut, pertemuan dengan Prabowo membahas timah dan rare earth atau logam tanah jarang untuk pembuatan senjata.

"Kemarin saya bicara dengan Menhan (Prabowo) bahas TIN (timah), TIN itu juga bisa kita ekstrak dari situ rare earth," ungkap Luhut dalam rapat dengan Badan Anggaran DPR, di Gedung DPR Senin (22/6).

Lebih lanjut, Luhut memaparkan hal penting apa yang menjadi sorotan keduanya saat melakukan pertemuan tersebut. Keduanya merasa keberatan bila harga rare earth masih ditentukan di Singapura. Padahal keberadaannya cukup melimpah di kerak bumi Indonesia.

"Rare earth itu satu masalah dunia yang sangat penting untuk pembuatan senjata. Kenapa harga rare earth mesti ditentukan di Singapura. Kenapa tidak di kita. Singapura udara saja dia impor, kita relakan itu," paparnya.

Sebelumnya, Prabowo Subianto berkunjung ke kantor Luhut pada Senin (15/6). Luhut dan Prabowo bertemu selama hampir dua jam.

Usai pertemuan, Luhut enggan bicara soal apa yang dibahas dengan Prabowo. Dia mengatakan bahwa pertemuannya tak mesti diberitahu kepada awak media. Kemudian dia berkata selamat masuk new normal.

"Masak mau diberi tahu kamu kan," ujar Luhut kepada awak media di kantor Kemenko Kemaritiman dan Investasi.

Kemudian Luhut ditanya lagi soal pesan apa yang diberikan kepada Prabowo. Dia mengatakan sempat memberikan pesan semangat kepada Prabowo soal new normal dalam pertemuannya.

"Apa nih, ya selamat masuk new normal," kata Luhut.

Rare earth adalah mineral tanah jarang yang terkandung dalam pasir timah seperti yang ada di Bangka Belitung. Mineral ini memiliki harga jual tinggi.

Tanah jarang bisa dijual hingga 10 kali lipat lebih tinggi dibanding timah itu sendiri. Komponen satu ini bahkan bisa digunakan untuk partikel nuklir, untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) hingga komponen elektronik.



Simak Video "Tinjau Penanganan Covid-19 PMI, Luhut Bahas Vaksinasi Virus Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)