Menteri ESDM Kurangi Subsidi Listrik Tahun Depan

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 29 Jun 2020 11:50 WIB
PLN Segera Lakukan Penyerdahanaan Golongan Pelanggan

Petugas mengecek meteran listrik di rusun petamburan, Jakarta Pusat, Senin (13/11/2017). Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana melakukan penyederhanaan kelas golongan pelanggan listrik rumah tangga non-subsidi. Grandyos Zafna/detikcom

-. Penyederhanaan ini berlaku kepada pelanggan dengan golongan 900 VA tanpa subsidi, 1.300 VA, 2.200 VA, dan 3.300 VA. Semua golongan tersebut akan dinaikkan dan ditambah dayanya menjadi 4.400 VA.
Menteri ESDM Kurangi Subsidi Listrik Tahun Depan
Jakarta -

Pemerintah dan Komisi VII DPR menyetujui anggaran subsidi listrik dalam RAPBN 2021 senilai Rp 50,47-54,55 triliun. Angka ini turun dari anggaran yang ditetapkan pada tahun ini sebesar Rp 54,79 triliun.

Menteri ESDM Arifin Tasrif menyatakan bahwa penetapan kebijakan subsidi listrik tepat sasaran mendukung asumsi makro yang baik. Belum lagi PLN juga diklaim Arifin telah melakukan efisien, sehingga dipastikan subsidi listrik akan turun.

"Dengan penetapan kebijakan subsidi listrik tepat sasaran serta mendukung asumsi makro yang baik dan efisiensi PLN, subsidi listrik dan biaya pokok penyediaan dipastikan turun 2021. Meskipun tidak ada pencabutan subsidi dan sama dengan kebijakan subsidi 2020 penerapan ke 25 golongan," ujar Arifin dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR, Senin (29/6/2020).

Arifin menjelaskan anggaran subsidi listrik juga melihat asumsi kurs dollar AS rentang Rp 13.700 - 14.900 dan juga harga minyak Indonesia (Indonesian Crude Price/IPC) sebesar US$ 42-45 per barel.

"Usulannya, RAPBN 2021 sebesar Rp 50,47-54,55 triliun. Dengan asumsi nilai tukar dolar Rp 13.700 - 14.900 per US Dollar dan sebagaimana diusulkan ICP US$ 42- 45 per barel," papar Arifin.

Sementara itu Sekjen Kementerian ESDM Ego Syahrial menambahkan, asumsi subsidi listrik turun disebabkan oleh harga ICP yang juga turun. ICP sendiri menjadi salah satu unsur pembentuk harga listrik.

"Kan itu ICP saja beda sama yang dulu, dari US$ 63 sekarang US$ 40-42 per barel, perkiraan. Tapi kan nanti ke depan kita nggak tahu, satu lagi kurs berubah," ujar Ego ditemui usai rapat kerja.

Ego pun menyatakan angka ini masih asumsi, dia menyatakan angkanya masih berubah-ubah. Belum lagi angka ini akan didiskusikan kembali ke Badan Anggaran DPR RI.

"Sekarang kan asumsi. Nih satu yang perlu dicatat, ini semua tentatif. Ini sangat tentatif masih awal, nanti juga kita maju ke Banggar. Nah nanti semua itu akan definitif pada saat nota keuangan dibacakan Presiden," kata Ego.



Simak Video "Mantap! Subsidi Listrik Diberikan hingga September 2020"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)