Sempat Dihantam Corona, Harga Tembaga Mulai Merangkak Naik

Trio Hamdani - detikFinance
Selasa, 08 Sep 2020 08:50 WIB
Tambang Batu Hijau PT Newmont terletak di Nusa Tenggara Barat (NTB). detikcom berksempatan melihat dari dekat proses penambangan tembaga, emas dan perak di Sumbawa, NTB, tersebut,Rabu, (29/06/2011). file/detikfoto
Ilustrasi/Foto: Dikhy Sasra
Jakarta -

Harga tembaga naik cukup signifikan setelah harganya merosot di akhir Maret dan diyakini reli akan terus berlanjut. Harga tembaga seringkali dipandang sebagai penentu arah ekonomi global. Namun nilainya jatuh pada akhir Maret ketika pandemi virus Corona menyebar ke seluruh dunia.

Namun, harga spot telah pulih dengan cepat dari US$ 2,1195 per pon di New York Mercantile Exchange pada 23 Maret menjadi US$ 2,9580 per pon pada hari Jumat. Itu naik 5,87% untuk tahun ini dan 9% secara kuartal. Awalnya kondisi tersebut didukung oleh kenaikan tajam permintaan China.

"Meskipun hal ini sangat kontras dengan penurunan rata-rata 5% pada harga saham untuk 4 penambang terdiversifikasi Big 4 (Anglo, BHP, Glencore, RIO), kami tetap bullish di sektor ini karena pemulihan ekonomi global, dipimpin oleh China," kata Analis logam dan pertambangan Goldman Sachs dikutip dari CNBC, Selasa (8/9/2020).

Direktur Eksekutif Goldman Jack O'Brien dan timnya mengaitkan optimisme mereka dengan pemulihan di sektor otomotif dan peralatan, kekuatan berkelanjutan di pasar properti China, dan rekor penerbitan kredit satu bulan tertinggi kedua di China.

Dolar AS yang melemah dan ekspektasi inflasi global yang meningkat juga diperkirakan akan menopang harga tembaga di masa mendatang.

Tembaga tetap menjadi komoditas favorit dilihat dari permintaan yang ada. Sedangkan Glencore dan BHP sebagai perusahaan yang berada pada posisi terbaik untuk mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga tembaga.

"Pandangan kami tetap bahwa tembaga dapat tetap lebih kuat dari sini karena permintaan properti China tetap pada tingkat yang tinggi, dan sisi penawaran terus menangani efek COVID-19," tuturnya.

Dalam menilai prospek pasokan, ahli strategi Bank of America mencatat bahwa pasokan tambang tembaga telah menurun, sementara pasokan olahan meningkat.

"Oleh karena itu, terhadap hambatan produksi tambang yang sedang berlangsung, terdapat risiko keberlanjutan peningkatan produksi olahan global sebesar 2,5% pada Mei," kata Bank of America dalam catatan penelitian.

Ahli strategi BofA menyoroti bahwa pertumbuhan pasokan tambang dasar telah turun secara stabil dalam beberapa tahun terakhir, dengan produksi konsentrat tembaga pada tahun 2020 berada pada tingkat yang kurang lebih sama seperti pada tahun 2016.



Simak Video "Ini Jaket Rp 16 Juta yang Diklaim Tahan Penyakit"
[Gambas:Video 20detik]
(toy/ara)