Investasi Rp 16 T, BP Beralih ke Energi Tenaga Angin

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 11 Sep 2020 13:00 WIB
BP AKR Fuels Retail mengumumkan bahwa empat SPBU pertama mereka di Indonesia kini telah dibuka. Begini kondisi SPBU milik BP AKR Fuels Retail.
Foto: BP AKR Fuels Ritel
Jakarta -

Perusahaan minyak asal Inggris BP berencana beralih ke energi tenaga angin. Rencana itu terbukti dari invetasi BP ke pembangkit tenaga angin di Amerika Serikat. Nilai investasi yang digelontorkan sebesar US$ 1,1 miliar setara Rp 16 triliun (kurs Rp 14.800).

Perusahaan mengaku telah membeli 50% saham di proyek tenaga energi angin Empire Wind dan Beacon Wind milik perusahaan energi angin Equinor di pantai timur AS. Proyek itu berpotensi memberi daya listrik ke lebih dari 2 juta rumah di AS.

"Ini adalah langkah awal yang penting dalam penyampaian strategi dan poros baru kami menjadi perusahaan energi terintegrasi," kata CEO BP Bernard Looney, dikutip dari CNN, Jumat (11/9/2020).

BP meluncurkan perombakan strategis besar bulan lalu untuk memenuhi janjinya memenuhi nol emisi karbon pada tahun 2050. Perusahaan merencanakan peningkatan 10 kali lipat dalam investasi rendah karbon tahunan menjadi US$ 5 miliar (Rp 74 triliun) pada 2030. Mengingat produksi migas telah turun sebesar 40% sejak 2019.

Kesepakatan BP dengan Equinor diharapkan akan ditutup awal tahun depan dan dapat membuka jalan untuk investasi lebih lanjut ke pasar energi angin. CEO Equinor Eldar Sætre mengatakan perusahaan akan mempertimbangkan peluang masa depan di AS.

"Kemitraan kami menggarisbawahi komitmen kuat kedua perusahaan untuk mempercepat transisi energi dan menggabungkan kekuatan yang memungkinkan kami untuk menumbuhkan bisnis angin lepas pantai yang menguntungkan bersama di AS," kata Sætre.

Pembangunan Empire Wind dan Beacon Wind masing-masing terletak di lepas pantai Kota New York dan pantai Massachusetts. Equinor telah memiliki ladang energi angin pertama pada 2017 di lepas pantai Skotlandia Itu menjadi energi angin pertama di AS. Proyek tenaga angin telah berkembang di Laut Utara, Pantai Timur AS, dan Laut Baltik.

BP mengatakan untuk ke energi angin memerlukan investasi besar tentunya dalam bioenergi dan penyimpanan hidrogen dan karbon. Agar kebutuhan investasi terpenuhi BP akan mengurangi portofolio penyulingan migasnya. Hal itu bertujuan untuk mengumpulkan US$ 25 miliar (Rp 374 triliun) dengan menjual aset selama lima tahun ke depan.

Rencana beralihnya BP ke energi angin juga didorong dari bencana yang dialami BP setelah tumpahan minyak Horizon Deepwater di Teluk Meksiko, dan pada 2015. Denda yang dikeluarkan perusahaan sebesar US$ 20,8 miliar (Rp 299 triliun). BP mengatakan bahwa bencana tersebut telah merugikan perusahaan US$ 67 miliar (Rp 1.000 triliun) dalam denda, biaya pembersihan, dan litigasi.



Simak Video "Semangat untuk Indonesia Maju dari Erwin Gutawa Orchestra dan Para Musisi"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)