Shell Bakal PHK 9.000 Pegawai

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 30 Sep 2020 20:45 WIB
Shell Indonesia kembali menambah jumlah SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) di dua wilayah berbeda di Pulau Jawa yaitu di Cirebon (Jawa Barat) dan Alam Sutera (Tangerang).
Foto: Shell
Jakarta -

Royal Dutch Shell atau lebih dikenal dengan Shell akan memangkas 9.000 pegawainya. Pemutusan hubungan kerja (PHK) massal ini dilakukan karena perusahaan asal Belanda itu terpuruk dengan anjloknya permintaan minyak selama pandemi virus Corona (COVID-19).

Pemangkasan 9.000 pegawai itu akan diterapkan secara menyeluruh di tahun 2022, termasuk juga 1.500 pegawai yang mengambil redundan secara sukarela.

Total pegawai Shell saat ini mencapai 83.000 orang yang tersebar di seluruh dunia, dan 6.000 orang di antaranya adalah pegawai di Inggris.

Keputusan ini diambil setelah Shell memotong dividennya untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia Kedua pada 5 bulan yang lalu.

CEO Shell Ben van Beurden mengatakan, PHK massal ini adalah langkah terbaik untuk mempertahankan keberlangsungan perusahaan di masa depan. Selain itu juga demi melanjutkan rencana perusahaan mengubah bisnis menjadi energi bersih tanpa emisi.

"Sangat menyakitkan mengetahui bahwa kami harus mengucapkan selamat tinggal kepada beberapa orang terbaik. Tetapi kami melakukan ini karena kami harus melakukannya, karena itu adalah hal yang benar untuk dilakukan demi masa depan perusahaan," kata Beurden seperti yang dilansir dari BBC, Rabu (30/9/2029),

"Kami harus bertindak cepat dan tegas dan membuat beberapa keputusan keuangan yang sangat sulit untuk memastikan kami tetap tangguh, termasuk memotong dividen," kata Van Beurden.

Beurden juga menyampaikan rasa kehilangannya karena perusahaan harus kehilangan sejumlah pegawai yang menjadi korban COVID-19.

"COVID-19 telah menyerang kami dengan cara lain. Sayangnya, kami juga kehilangan enam karyawan dan enam rekan kontraktor karena virus," tutur dia.

Selain Shell, raksasa minyak dunia lain, yakni BP juga memangkas pegawainya secara besar-besaran. Sebelumnya, BP telah mengumumkan pemangkasan 10.000 pegawai dari total 70.000 pegawai di seluruh dunia. Rival dari Shell itu juga telah memotong dividennya.

Selama pandemi, Shell telah mengalami penurunan keuntungan yang drastis. Pada kuartal I-2020, laba bersih perusahaan turun hingga 46% menjadi US$ 2,9 miliar atau sekitar Rp 43 triliun (kurs Rp 14.900). Di kuartal II-2020, pendapatan perusahaan turun lagi hingga 82% menjadi US$ 638 juta atau hanya Rp 9,5 triliun.

Di kuartal III-2020, perusahaan berharap laba bersihnya minimal berada di kisaran US$ 800-875 juta atau sekitar Rp 11,9-13 triliun.

Saat ini, perusahaan tengah melakukan efisiensi yang diharapkan dapat menghasilkan penghematan sebesar US$ 2-2,5 miliar atau sekitar Rp 29,8-37 triliun pada tahun 2022.

(dna/dna)