Pandemi Dinilai Tak Ganggu Penyediaan BBM dan LPG ke Masyarakat

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Rabu, 30 Sep 2020 23:53 WIB
Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ego Syahrial bersama Kepala BPH Migas, M Fanshurullah Asa melakukan groundbreaking proyek pembangunan pipa gas ruas transmisi Cirebon-Semarang di Rest Area Tol KM 379A, Ruas Tol Semarang-Batang. Proyek pipa sepanjang 255 km ini sesuai dengan rencana induk di mana pada 2006 BPH Migas telah melakukan lelang ruas transmisi dan menetapkan PT Rekayasa Industri (Rekind) ditetapkan sebagai pemenang lelang.
Foto: Akfa Nasrulhak
Jakarta -

Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ego Syahrial memastikan keterbatasan aktivitas fisik di tengah masa pandemi COVID-19 tidak mempengaruhi penyediaan dan pelayanan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquified Petroleum Gas (LPG) kepada masyarakat. Penyaluran energi tetap optimal untuk mendukung perekonomian masyarakat.

"Pemerintah meminta kepada Pertamina untuk tetap menyediakan BBM di masyarakat dan juga menjamin BBM dalam rangka mendukung perekonomian. Beberapa SPBU juga kita tetap meminta beroperasi 24 jam. Demikian juga kepastian agar pasokan LPG bagi rumah tangga tetap terjaga," ungkap Ego dalam keterangan tertulis, Rabu (30/9/2020).

Ego menuturkan sebagai komoditas vital bagi masyarakat yang diatur dalam undang-undang, menjadi kewajiban bagi pemerintah untuk menjamin ketersediaan dan kelancaran pendistribusian BBM dan LPG ke seluruh wilayah RI.

Pelayanan pendistribusian ini, kata dia, telah dibarengi melalui sistem operasionalisasi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dengan protokol kesehatan yang ketat. "Termasuk penyediaan wastafel dan (penyemprotan) disinfektan di area SPBU," ungkapnya.

Ego mengakui pergerakan konsumsi BBM dan LPG mengalami penurunan semester awal 2020 ini. "Konsumsi BBM kita di Semester I 2020 menurun sebesar 13% kalau kita bandingkan periode yang sama di tahun lalu. Dilaksanakannya Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) bahkan terjadi penurunan demand mencapai sebesar 50% di beberapa kota besar, seperti Jakarta," jelasnya.

Bahkan dalam kondisi normal, catatan Kementerian ESDM menunjukkan adanya tren peningkatan konsumsi BBM rata-rata sebesar 2,7% per tahun, bahkan konsumsi LPG meningkat rata-rata 5% per tahun.

"Ini tahun yang berat bagi seluruh negara di dunia, dampak pandemi terhadap sektor energi pasti sangat signifikan, baik investasi maupun yang bersinggungan langsung kepada masyarakat," tutur Ego.

Diketahui, untuk konsumsi BBM pada tahun 2015 sebesar 67,51 juta kilo liter dan terus merangkak naik di tahun 2016 (68,15 juta kl), 2017 (70,98 juta kl), 2018 (74,08 juta kl) dan 2019 (75,12 juta kl). Hal serupa juga terjadi pada LPG, tingkat konsumsi LPG di masyarakat cenderung mengalami kenaikan, yakni 2015 (6,38 juta metrik ton), 2016 (6,64 juta Mton), 2017 (7,19 juta Mton), 2018 (7,56 juta Mton), dan 2019 (7,7 juta Mton).

CEO Commercial & Trading Subholding Pertamina Mas'ud Khamid menyatakan selama pandemi ini ada tiga hal utama yang mempengaruhi kinerja Pertamina. Pertama adalah menurunnya permintaan secara tiba-tiba. Kedua, fluktuasi kurs rupiah terhadap mata uang asing dan yang terakhir adalah penurunan harga crude sebagai bahan baku dari bahan bakar minyak.

"Kita popularkan (kondisi ini) dengan triple shock," ungkap Mas'ud.



Simak Video "Mobil-Kantor Kementerian ESDM Dirusak Massa Demo"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/ega)