Sandiaga Sebut Raksasa Migas Cabut dari RI Jadi Peluang

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Selasa, 06 Okt 2020 15:26 WIB
Sandiaga Uno
Foto: Ashri Fathan/detikcom
Jakarta -

Pengusaha nasional Sandiaga Uno mengungkap penyebab perusahaan raksasa minyak dan gas (migas) dunia hengkang dari Indonesia. Sandiaga juga mengatakan, hengkangnya raksasa migas tersebut peluang untuk BUMN yang bergerak di bidang energi.

Sandi menjelaskan, pandemi COVID-19 telah memberikan pelajaran, di mana kontraksi permintaan energi dan ekonomi berakibat pada penurunan harga minyak yang kini stabil di kisaran US$ 40 per barel. Penurunan harga itu, terangnya, bukan hanya karena permintaan tapi juga akibat dari disrupsi dari sisi pasokan.

"Kalau kita lihat beberapa negara OPEC maupun non OPEC kesulitan menyesuaikan output daripada produksi mereka," katanya dalam Seminar Lemhanas, Selasa (6/10/2020).

Menurut Sandi, penyesuaian produksi inilah yang membuat perusahaan-perusahaan migas raksasa keluar dari Indonesia. Keluarnya perusahaan itu memberikan indikasi adanya penyesuaian pada portofolio mereka.

"Ternyata dalam 6 bulan terakhir penyesuaian nilai output mendorong para multinasional keluar dari Indonesia. Shell mengumumkan akan exit dari Masela, Exxon mengumumkan juga akan exit, dan Chevron dan beberapa perusahaan besar lainnya memberikan indikasi bahwa ada keinginan mereka untuk melakukan adjusment portofolio mereka," paparnya.

Menurut Sandi, kondisi ini peluang bagi BUMN bidang energi. Di saat perusahaan migas raksasa kehabisan waktu untuk menyeimbangkan pasar, BUMN bisa mengambil peluang untuk mengamankan pasokan energi nasional.

"Memang pada saat ini justru BUMN energi harus step up, harus mengambil ini sebagai peluang, karena jika produsen minyak terbesar dunia kehabisan waktu untuk menyeimbangkan pasar setelah wabah mendistrupsi permintaan, justru BUMN energi bisa masuk mengambil peluang dan melakukan suatu langkah-langkah strategis mengamankan pasokan energi kita ke depan," terangnya.

(acd/fdl)