Akhirnya! Ribuan Ton Sampah di Bantargebang Diolah Jadi Bahan Bakar

Danang Sugianto - detikFinance
Selasa, 06 Okt 2020 21:40 WIB
Sejumlah truk sampah menunggu antrean di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, Senin (1/5/2020). Menurut data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, usai lebaran rata-rata jumlah sampah yang datang ke TPST Bantargebang  menurun dari tahun 2019 yaitu 7.145 ton per hari menjadi 6.602 ton per hari akibat adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang berdampak pada aktifitas di pusat perbelanjaan dan kuliner. ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/pras.
Foto: ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah
Jakarta -

Tumpukan sampah yang menggunung di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang akhirnya memiliki solusi. Ribuan ton dari sebagian sampah disana akan diolah menjadi bahan bakar.

Sampah di TPST Bantargebang akan diolah menjadi bahan bakar alternatif berupa Refuse Derived Fuel (RDF). RDF sendiri merupakan sampah-sampah yang mudah terbakar kemudian diolah menjadi bahan bakar.

Pengolahan itu dilakukan oleh PT Solusi Bangun Indonesia (SBI) unit usaha dari PT Semen Indonesia (Persero) Tbk yang bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi DKI Jakarta dan PT Unilever Indonesia dalam pengelolaan dan pemanfaatan sampah domestik di TPST Bantargebang.

Kerjasama tersebut dilaksanakan pada zona tertentu di TPST Bantargebang yang telah berusia lebih dari 10 tahun.

Direktur Produksi SIG, Benny Wendry mengatakan, proses mengubah sampah menjadi bahan bakar meliputi penggalian dan pengayakan. Lalu dikirim ke lokasi Pabrik SBI di Narogong, Jawa Barat untuk dicacah, dan melalui proses pengurangan kadar kelembaban dengan campuran material lain guna menghasilkan RDF yang memenuhi standar kualitas alternatif bahan bakar untuk pabrik semen.

Produk RDF yang akan dihasilkan dari proyek awal ini minimum 1.000 ton/bulan, di mana 80-90% nya terdiri dari sampah plastik yang akan dimanfaatkan oleh SBI sebagai sumber energi alternatif.

Benny Wendry menyampaikan, Selain Pabrik Narogong Jawa Barat, penggunaan bahan bakar alternatif juga telah digunakan di PT Semen Padang di Sumatera Barat, PT Semen Tonasa di Sulawesi Selatan, PT Solusi Bangun Indonesia (SBI) Pabrik Cilacap, PT Solusi Bangun Andalas (SBA) di Aceh serta SIG Pabrik Tuban Jawa Timur.

Semen Padang dan Semen Tonasa memanfaatkan sekam padi dan serbuk gergaji. SBA menggunakan sekam padi, SBI Pabrik Cilacap memanfaatkan sampah kota sebagai energi alternatif. SBI Pabrik Cilacap menjadi pelopor program pengolahan dan pemanfaatan sampah kota menjadi Refused Derived Fuel (RDF) melalui kerja sama dengan Pemkab Cilacap, Pemerintah Denmark, Provinsi Jawa Tengah, Kementerian PUPR, dan Kementerian LHK.

Sedangkan SIG Pabrik Tuban penggunaan biomassa menjadi bahan bakar alternatif dilakukan sejak tahun 2008. Biomassa yang dipakai adalah sekam padi, cocopeat (sabut kelapa), serbuk gergaji, limbah tembakau, biji jagung. Limbah pertanian tersebut diambil dari Kabupaten Tuban, Lamongan, Bojonegoro dan Banyuwangi.

"Selain lebih efisien jika dibandingkan dengan batu bara, penggunaan bahan bakar alternatif ini juga memberdayakan petani dan warga di sekitar pabrik. Setiap bulan, Pabrik Tuban menerima kiriman sekam padi 2.553 ton, cocopeat 244 ton, limbah tembakau 244 ton, serta kertas reject sebanyak 90 ton. Pada periode Januari hingga Agustus 2020, biomassa yang dipasok ke pabrik Tuban mencapai 25.969 ton," kata Benny Wendry.

(das/dna)