Bagaimana Pemerintah Bisa Optimalkan Proyek Strategis Nasional?

- detikFinance
Rabu, 07 Okt 2020 17:34 WIB
Blak-blakan bersama Arcandra Tahar
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Industri eksplorasi minyak dan gas (migas) yang penuh risiko dan berbiaya besar dapat dikelola dengan baik jika didukung dengan penguasaan teknologi dan pemahaman yang baik terhadap aspek komersialnya. Sejumlah proyek strategis di PGN yang dikerjakan dengan mengedepankan aspek teknologi dan komersial berhasil mendorong adanya efisiensi triliunan rupiah dana perusahaan.

Demikian paparan dari Wakil Menteri ESDM 2016-2019 Arcandra Tahar saat menjadi pembicara dalam diskusi daring bertema Strategi Mengoptimalkan Profesional Brand yang digelar mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Sepuluh Nopember Surabaya (FT ITS), Minggu malam (4/10/2020) lalu.

Dalam kesempatan ini Arcandra yang juga Komisaris Utama PT Perusahaan Gas Negara (PGN) mengatakan, ada dua aspek utama yang biasanya menjadi subyek dari setiap proyek migas, yaitu teknologi dan komersial.

"Jika dua aspek itu dijadikan sebagai patokan utama dalam membangun dan mengembangkan sebuah proyek, Inshaa Allah hasilnya akan optimal dan memberi manfaat luas ke masyarakat. Proyek pipa minyak PGN di Riau bisa dihemat Rp 2,1 triliun dan ada beberapa proyek lagi yang penghematannya juga sangat besar," tegasnya di akun Instagram @arcandra.tahar, Rabu (7/10/2020).

Lebih lanjut Arcandra menuturkan, untuk berhasil menjadi profesional di industri, seperti halnya industri migas, maka seseorang harus memiliki karakter kuat yang didukung dengan kompetensi dan trustworthy.

"Kompetensi disini meliputi pengetahuan, skill dan pengalaman yang sudah terbukti dan teruji hasilnya. Seorang profesional yang baik harus punya keinginan untuk membuat sebuah rencana perubahan dan berani menjalankan rencana itu hingga berhasil," tuturnya.

Arcandra menambahkan, di dunia yang sudah sangat terintegrasi dengan teknologi dan internet ini, branding banyak digunakan untuk mensukseskan seseorang, perusahaan dan juga berbagai produk yang dihasilkan oleh orang atau perusahaan itu. Namun, branding bukanlah tujuan. Yang utama seseorang/organisasi harus tetap memiliki value yang berharga sehingga keberadaannya dibutuhkan.

Menurutnya, selama punya value berharga, yang mampu memberikan nilai tambah yang semakin besar, maka branding personal juga akan bertambah kuat.

Bagaimana membangun value berharga? Menurut Arcandra hal itu dimulai dari diri sendiri. Yaitu bagaimana mengenali potensi, kekuatan, kelebihan serta kekurangan diri sendiri. Dengan begitu setiap individu bisa memilih cara terbaik untuk mengasah potensi itu menjadi value personal.

"Dari sana kita dapat menentukan lingkungan seperti apa yang tepat untuk mengembangkan value tersebut, sehingga dapat memberikan kontribusi yang punya arti fundamental, baik kepada perusahaan maupun masyarakat," imbuhnya.

Arcandra berpesan kepada para mahasiswa, jika kelak menjadi seorang profesional, pejabat atau pelaku usaha, teruslah untuk mengasah value hingga ujung dunia. Jadilah "seorang pebalap Formula One" bukan sopir biasa agar bisa bertarung di tingkat dunia

"Karena itulah penting sekali bagi kita untuk selalu fokus pada subtansi dan bukan sibuk memperbincangkan aroma, yang belum tentu kontribusi dan manfaatnya," ujarnya.

(dna/dna)