Bos Pertamina: 70% LPG Masih Impor

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Selasa, 06 Okt 2020 14:00 WIB
Petugas melakukan pengisian gas ke dalam tabung LPG 3 kg di Stasiun Pengisian Bahan bakar Elpiji (SPBE) di kawasan Terminal LPG Makassar, Kamis (3/10/2019). Setiap hari terminal tersebut memproduksi 22 ribu tabung 3 kg berisi gas dengan kapasitas 60-70 metrik ton untuk kebutuhan warga Makassar.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Wdyawati mengungkapkan kebutuhan Liquid Petroleum Gas (LPG) terus meningkat tiap tahunnya. Namun, sebagian besar LPG terus masih dipenuhi impor.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Pertamina terus membangun jaringan pipa gas. Jaringan ini diperlukan untuk mengoptimalkan natural gas di Indonesia serta mempercepat distribusi. Hal tersebut diharapkan dapat mengurangi impor LPG.

"Hari ini, gas ini memegang peranan penting karena LPG demand-nya naik terus, jadi growth rate per tahun 6,5 sampai 7,5%," katanya dalam Seminar Lemhanas, Selasa (6/10/2020).

"70% LPG masih impor oleh karena itu melalui PGN, Pertamina kemudian mendapat penugasan membangunan jaringan pipa gas. Hari ini sudah lebih dari 500 ribu sambungan rumah tangga dan terus akan kita tingkatkan 1 juta di tahun 2024," terangnya.

Lebih lanjut, gas merupakan satu dari empat pilar dalam pengembangan energi baru terbarukan Pertamina. Dia bilang, dalam pengembangan energi terbarukan, Pertamina menjadikan gas sebagai energi transisi dari fosil.

Kedua, Pertamina mendorong energi terbarukan seperti bio diesel, bio fuel dan bio avtur. Ketiga, Pertamina mengoptimalkan geothermal, di mana Pertamina saat ini merupakan salah satu pengembang geothermal dengan kapasitas terpasang lebih dari 1.000 MW.

"Ke empat sesuai tren ke depan maka Pertamina bersinergi BUMN lain akan membangun ekosistem EV baterai. Ketika terjadi shifting fosil fuel ke electric vehicle dari Pertamina telah menetapkan transformasi bisnisnya sesuai pertumbuhan demand ke depan," terangnya.

(acd/fdl)