Soroti Batu Bara, Jokowi: Harus Bergeser dari Ekspor Bahan Mentah

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Jumat, 23 Okt 2020 10:26 WIB
Presiden Jokowi
Presiden Joko Widodo (Jokowi)/Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggelar rapat terbatas (ratas) membahas percepatan peningkatan nilai tambah batu bara pagi ini. Mengawali rapat tersebut, Jokowi meminta agar peta jalan optimalisasi pemanfaatan batu bara dipercepat.

Jokowi mengatakan pemerintah ingin Indonesia bergeser dari negara pengekspor bahan-bahan mentah seperti batu bara menjadi negara industri yang mampu mengolah barang jadi maupun setengah jadi.

"Sebelumnya saya ingin mengingatkan bahwa kita semua harus bergeser dari negara pengekspor bahan-bahan mentah dan salah satunya batu bara menjadi negara industri yang mampu mengolah bahan mentah menjadi barang jadi, ataupun barang setengah jadi. Ini saya kira strategi besar yang harus kita konsisten menjalankannya," kata Jokowi seperti dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (23/10/2020).

Maka itu, Jokowi mengatakan, harus bergerak untuk pengembangan industri turunan batu bara, mulai dari peningkatan mutu, pembuatan briket, pembuatan kokas hingga kemudian pencairan batu batu bara, gasifikasi batu bara, campuran batu bara air.

"Saya yakin dengan mengembangkan industri turunan ini kita akan mampu meningkatkan nilai tambah dari komoditas berkali-kali lipat, mengurangi impor bahan baku yang dibutuhkan beberapa industri dalam negeri seperti industri baja, industri petrokimia, yang tak kalah pentingnya tentu kita bisa membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya," ungkapnya.

Jokowi pun meminta agar peta jalan optimalisasi batu bara dipercepat dengan penerapan teknologi yang ramah lingkungan.

"Untuk itu saya minta roadmap optimalisasi pemanfaatan batu bara yang betul-betul dipercepat dengan penerapan dengan teknologi yang ramah lingkungan, tentukan strategi, tentukan target produk hilir yang kita kembangkan, sehingga jelas arah mana yang kita tuju," jelasnya.

Jokowi pun meminta agar optimalisasi itu secara rinci baik jumlah produk yang dihasilkan sampai pemetaan wilayah yang bisa digunakan untuk hilirisasi industri batu bara.

"Berapa banyak yang diubah gas, berapa banyak yang diubah produk petrokimia, kemudian pemetaan kawasan yang dapat dikembangkan untuk melakukan hilirisasi industri batubara ada di mana saja, sehingga jelas ke depan strategi besar ke depan seperti apa," ungkapnya.

(acd/ara)