Erick Thohir Punya Rencana Besar di Sektor Energi, Ini Bocorannya

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Kamis, 22 Okt 2020 11:44 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir
Foto: Menteri BUMN Erick Thohir (Achmad Dwi Afriyadi/detikcom)
Jakarta -

Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan ketahanan energi merupakan salah satu pilar utama. Maka itu sektor energi akan dikembangkan dengan memperhatikan ketersediaan, keterjangkauan hingga keberlanjutan untuk mendorong daya saing.

Erick juga mengatakan, jangan sampai kebijakan yang dibuat justru memperlemah daya saing atau bahkan menghambat transformasi energi.

"Jangan sampai kita membuat kebijakan yang memperlemah daya saing. Dan sebaliknya, jangan kita membuat kebijakan yang menghambat untuk transformasi energi nasional," katanya dalam acara Tempo Energy Day, Kamis (22/10/2020).

Erick mengatakan, transformasi di bidang ketahanan energi terus dilakukan. Ia menyebut transformasi itu seperti pengembangan baterai kendaraan listrik atau EV battery, sinergi refinery dan petrokimia, serta implementasi peralihan sumber energi fosil ke energi terbarukan.

"Untuk itu, kami dari Kementerian BUMN telah menugaskan perusahaan-perusahaan BUMN di dalam klaster energi dan minerba seperti PLN, Pertamina, MIND ID, dan Bukit Asam untuk terus berinvestasi demi energi di masa depan," katanya.

Dia mengatakan, transformasi itu sudah berjalan seperti program biodiesel 30% (B30) dan program gasifikasi batu bara dengan harapan mengurangi impor LPG 6 juta metrik ton. Bukan hanya itu, pihaknya juga mempercepat pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

"Percepatan program pembangunan listrik tenaga surya antara PLN dan Masdar dari UAE dengan kapasitas 145 mega watt (MW) terbesar di Asia Tenggara," katanya.

Erick melanjutkan, pihaknya juga sedang memetakan potensi-potensi energi terbarukan.

"Karena itu kita sedang memetakan potensi-potensi energi yang terbarukan yang ada di Indonesia. Dan kita prioritaskan mulai dari kepulauan-kepulauan, dikarenakan saat ini beberapa daerah memiliki kapasitas yang berlebih akibat pandemi COVID-19," ujarnya.

(acd/ara)