11 Tahun Silam RI Cabut dari OPEC, Begini Ceritanya

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 18 Nov 2020 14:08 WIB
Ilustrasi sektor migas
Foto: Ilustrasi Migas (Fauzan Kamil/Infografis detikcom)
Jakarta -

Indonesia sudah keluar dari Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) atau negara-negara produsen minyak pada 2009, atau 11 tahun silam. Pada awal tahun 2016, Indonesia aktif kembali menjadi anggota OPEC, namun keluar lagi pada akhir 2016.

Keluarnya Indonesia dari OPEC untuk pertama kali pada tahun 2009 dikarenakan Indonesia sudah tak lagi termasuk negara yang menjadi eksportir minyak, tapi justru negara yang rutin mengimpor minyak demi memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Dibalik itu semua, keluarnya Indonesia dari OPEC menjadi alasan PT Pertamina (Persero) selaku produsen minyak dan gas (migas) terbesar di Indonesia untuk mendirikan PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP). Anak usaha Pertamina itu didirikan untuk fokus dalam mencari pasokan tambahan demi memenuhi kebutuhan migas dalam negeri.

"Kebutuhan (migas di Indonesia) lebih tinggi dari apa yang bisa dipasok. Di tahun 2003 itu pernah ada keseimbangan suplai dan demand, tapi setelah itu Indonesia menjadi net importir. Yang sebelumnya Indonesia punya kelebihan pasokan yang bisa diekspor, sehingga menjadi bagian dari OPEC. Sejak 2009, Indonesia keluar dari OPEC karena kita sebagai net importir, lebih banyak mengimpor," ungkap Direktur Utama PIEP John Anis dalam webinar Ngopi BUMN, Rabu (18/11/2020).

John Anis mengatakan, ketersediaan migas dalam negeri diproyeksi masih akan tetap rendah beberapa tahun ke depan.

"Jadi kita bisa lihat kondisi di mana ada kebutuhan yang tinggi, suplai mesti diupayakan tapi belum tercapai 100%, research to production (R/P) juga masih cukup rendah, itu harus ditingkatkan. Dan juga lapangan-lapangan kita banyak yang tua, itu cukup sulit karena penurunan produksi cukup tinggi di situ," tutur John Anis.

Oleh sebab itu, PIEP terus berupaya mencari pasokan dari luar negeri, salah satunya dengan membangun kilang di luar negeri.

"Proyeksi ke depan suplai yang bisa kita berikan semakin menurun, sementara demand atau kebutuhan meningkat terus dengan tajam. Ini yang menyebabkan kita berupaya membantu pemerintah dalam penyediaan energi tersebut," tutur John Anis.

Saat ini, PIEP punya empat portofolio operasional di luar negeri yakni PT Pertamina Algeria EP dengan mayoritas saham 99,99%, PT Pertamina Irak EP 99,99%, PT Pertamina Malaysia EP 99,99%, dan Maurel & Prom S.A dengan 71,29% saham.

Secara keseluruhan, Pertamina EP beroperasi di 4 benua dan 13 negara.

"Jadi dari Amerika ada Kanada, Kolombia, dan Venezuela. Kanada dan Kolombia masih tahap eksplorasi, Venezuela sudah berproduksi. Kemudian ke Eropa ada Prancis dan Italia. Prancis sudah berproduksi, Italia masih eksplorasi. Lalu ke bawah ada Algeria, Nigeria, Gabon, Angola, dan Namibia. Algeria sudah berproduksi, juga Nigeria, Gabon, dan Angola. Namibia masih eksplorasi. Ada Irak dan Tanzania juga berproduksi. Dan terakhir di Asia ada Malaysia yang sudah berproduksi," pungkasnya.

(dna/dna)