Soal Radiasi PLTN, Kepala Batan Bandingkan dengan Rontgen

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 08 Des 2020 14:22 WIB
PLTN oke dok reuters
Ilustrasi PLTN/Foto: Reuters
Jakarta -

Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Anhar Riza Antariksawan hari ini rapat bersama Komisi VII DPR RI. Rapat membahas pemanfaatan nuklir untuk pembangkit listrik.

Anhar menjelaskan sebetulnya masyarakat tak perlu khawatir soal radiasi zat radioaktif yang ditimbulkan PLTN. Dari data yang dia paparkan, radiasi yang ditimbulkan PLTN di beberapa negara terhadap lingkungan sekitar sangat kecil.

"Ini selalu jadi masalah, ada kekhawatiran radiasi PLTN. Ada data di Amerika dan beberapa negara yang operasikan PLTN, sejauh operasi biasa kalau kita hidup di sebelah PLTN itu, maksudnya di lokasi yang diizinkan, itu radiasinya kecil," jelas Anhar di ruang rapat Komisi VII DPR, Jakarta, Selasa (8/12/2020).

Radiasi zat radioaktif untuk masyarakat di sekitar PLTN tidak akan melebihi radiasi yang ditimbulkan saat melakukan rontgen. Anhar menjelaskan jumlah radiasinya hanya sepersepuluh dibandingkan yang ditimbulkan dalam sekali praktik rontgen ke dalam tubuh.

"Radiasinya hanya sepersepuluh dari kalau kita lakukan rontgen. Kalau rontgen kita sudah menerima (zat radioaktif) 0,1 milisievert per sekali rontgen. Hidup di samping PLTN hanya menerima kurang dari 0,01 milisievert pertahunnya," kata Anhar.

Hingga kini sudah ada 30 negara yang melakukan operasional PLTN di seluruh dunia. Jumlah PLTN secara totalnya ada 442. Namun, satupun belum ada yang bisa dioperasikan di Indonesia.

"Data PLTN di 2020 ada 442 yang operasi, ada di beberapa negara ada 30 negara," kata Anhar.

"Di sini belum ada, sejauh ini kita hanya mengoperasikan reaktor untuk riset," lanjutnya.

Selain penolakan masyarakat, menurutnya untuk membangun PLTN memang butuh biaya besar. Pembangunannya pun cukup lama waktunya.

"Kami memahami yang jadi kekhawatiran masyarakat adalah kalau terjadi kecelakaan. Selain itu, concern-nya ini PLTN adalah investasi tinggi dan masa pembangunannya lama," ujar Anhar.

(ara/ara)