Pandemi COVID-19 Dorong PLN Lebih Cepat Digitalisasi Proses Bisnis

Yudistira Imandiar - detikFinance
Rabu, 16 Des 2020 22:27 WIB
Petugas PLN Unit Distribusi Jakarta Raya melaksanakan siaga pasokan listrik untuk perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) di Gereja Katedral Jakarta, Selasa (15/12/2020). Sebanyak 2371 personel telah disiapkan PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya untuk perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) pada tanggal 24 Desember 2020 – 2 Januari 2021.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Pandemi COVID-19 mendorong percepatan digitalisasi proses bisnis di tubuh PLN. Digitalisasi proses bisnis juga termasuk dalam program transformasi PLN untuk meningkatkan kinerja perusahaan.

Disampaikan Wakil Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo pada acara Indonesia Digital Conference 2020 bertajuk 'Inovasi di Tengah Pandemi' yang digelar oleh Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) secara daring, transformasi tersebut salah satunya dilatarbelakangi oleh adanya perubahan kondisi kelistrikan di Indonesia dari sebelumnya defisit menjadi surplus.

"Adanya perubahan ini juga membuat perubahan arah strategi, dari yang sebelumnya supply driven menjadi demand driven," ungkap Darmawan dalam keterangan tertulis, Rabu (16/12/2020).

Transformasi PLN mencakup empat aspirasi yaitu, Green, Lean, Innovative, dan Customer Focused, dengan 4 enabler, 2 di antaranya yaitu organization and people dan technology advancement. Melalui aspirasi Green, PLN meningkatkan penggunaan energi baru terbarukan untuk menghasilkan listrik.

Lean, untuk memastikan pengadaan listrik yang handal dan efisien. Innovative, untuk meraih pendapatan dari sumber-sumber baru. Customer Focused untuk menjadi pilihan nomor satu pelanggan dan mencapai 100 persen elektrifikasi.

Dari empat aspirasi tersebut, PLN memiliki 20 terobosan dalam program transformasi. Sebanyak 13 terobosan di antaranya merupakan pembangunan berbasis digital, antara lain Digital Power Plant, Digital Procurement, Digitally Enabled Distribution Excellence, Dispatch Optimization, Anti Black Out, Green Booster, Billing and Collection Organization, Fiber Optics Rollout, Electric Vehicles Infrastructure, Captive Power, Outage Management, PLN Mobile Relaunch, dan Digitally Enabled Execution Machine.

Darmawan menjelaskan tantangan terbesar dalam melakukan transformasi tidak hanya membangun sistem, tetapi juga membangun kapasitas human resource yang harus menyesuaikan dengan perkembangan teknologi.

"Penting bagi kita untuk mengelola organisasi yang lebih streamline. Setiap orang perlu bekerja dengan efektif, tidak ada redundance, perlu sinergi, kolaborasi, dan bagaimana kami harus mengelola lebih dari 100 ribu pegawai itu, maka kami membangun platform digital," lanjut Darmawan.

Untuk mencapai efektivitas tersebut, PLN mengembangkan kembali aplikasi layanan yang sudah ada sebelumnya yaitu PLN Mobile. Tak hanya sekadar aplikasi layanan, namun juga sebagai alat komunikasi PLN dengan pelanggan. PLN Mobile, kata dia, kini sedang dikembangkan menjadi sebuah SuperApp yang mengintegrasikan proses bisnis PLN.

"Pertama kami membangun sembilan fitur, untuk penguatan core bisnis kami. Ini melibatkan ribuan orang, tidak hanya bagian IT development, namun juga ada bagian operasional yang melibatkan ribuan orang, termasuk ujung tombak yang memberikan layanan di lapangan," ulas Darmawan.

Program digitalisasi ini, kata Darmawan, tidak lagi dijalankan secara pendekatan parsial, tetapi dilakukan secara komprehensif, holistik, dengan melibatkan banyak stakeholder.

Digitalisasi juga dilakukan dalam upaya mewujudkan keadilan energi, khususnya untuk menyediakan listrik daerah terpencil dan meningkatkan rasio elektrifikasi. Untuk menemukan lokasi-lokasi desa terpencil, urai Darmawan, PLN membuat sistem digital dengan memanfaatkan teknologi satelite image, pattern recognition dan artificial intelligent guna mengidentifikasi posisi pemasangan charging station, sehingga pelanggan tidak perlu berjalan kaki lebih dari 300 meter.

"Bagi kami, PLN harus melakukan pemasangan, kami harus tau medan operasinya. Dengan teknologi yang ada kami tau persis mereka ada di mana, menggunakan image satelite itu," jelas Darmawan.

Sementara itu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir menilai pandemi COVID-19 menjadi waktu yang tepat bagi pelaku usaha untuk melakukan digitalisasi.

"Dengan COVID-19, model bisnis harus berubah, ini yang saya tekankan kepada para direksi BUMN bahwa inovasi model bisnis baru harus segera dipelajari, lalu 2024 kita harapkan transformasi sudah terjadi kita juga membuat ekosistem yang baik buat semua. Kita tidak mau BUMN jadi menara gading. Kita harus bekerja sama dengan UMKM, swasta, pemerintah daerah dan masyarakat," ungkap Erick.

(akn/hns)