Dikaitkan Kunjungan Diplomatnya ke FPI, Jerman Butuh Nikel RI untuk...

Tim detikcom - detikFinance
Kamis, 24 Des 2020 17:04 WIB
Tambang nikel PT Vale di Soroako, Sulawesi Selatan
Tambang Nikel (Foto: Eduardo Simorangkir)
Jakarta -

Ramai isu liar di media sosial yang menyebut kedatangan staf Kedubes atau Diplomat Jerman ke Markas FPI terkait larangan ekspor nikel Indonesia. Jerman dinilai memanfaatkan kunjungan itu untuk membuat serangan balasan ke Indonesia di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) soal gugatan larangan ekspor nikel.

Terlepas dari polemik kunjungan tersebut, memangnya seberapa butuh Jerman terhadap nikel Indonesia?

Pengamat Energi yang juga merupakan Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan mengatakan Jerman dan Indonesia memang sangat tegang soal urusan nikel. Pasalnya, Jerman sangat membutuhkan pasokan nikel dari Indonesia untuk industri baterai listrik, sementara sumber dayanya tidak ada di negara tersebut.

"Kalau kita melihat bahwa nikel bahan baku utama pembuatan manufaktur di sana apalagi soal baterai di mana tren di sana berjalan di Eropa ke depan kebutuhan nikel akan sangat besar," ujar Mamit, Kamis (24/12/2020).

Di sisi lain, Indonesia sebagai negara yang kaya nikel justru memilih melarang ekspor nikel dan melakukan hilirisasi. Hal ini lah yang membuat Jerman bersitegang dengan Indonesia.

"Ini lah jadi polemik dengan Jerman kan pemerintah maunya hilirisasi, memang tren ke depan nikel ini mineral utama," ujar Mamit.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi. Menurutnya, Jerman sangat membutuhkan nikel dari Indonesia karena kualitasnya yang terbaik.

"Seperti negara Eropa lainnya, Jerman sangat membutuhkan nikel Indonesia lantaran selain jaminan pasokan, juga kualitas nikel Indonesia yang terbaik. Jerman bisa saja mendapatkan nikel dari negara lain, tapi tidak ada jaminan pasokan dan kualitas nikel," jelasnya.

Mereka membutuhkan nikel dari Indonesia salah satunya untuk industri baterai listrik. Jika ekspor nikel dilarang berkepanjangan, maka disebutnya akan berdampak pada industri di negara tersebut.

"Larangan nikel memang akan menurunkan nilai ekspor dalam jangka pendek. Namun, setelah hilirisasi nikel di Indonesia berhasil, akan meningkatkan nilai tambah dan volume ekspor Indonesi dari produk hasil hilirasasi nikel dan produk sampingan lainnya," tandasnya.

(dna/dna)