Dorong Energi Terbarukan, Pertamina Bentuk Desa Mandiri Energi di Lampung

Erika Dyah - detikFinance
Kamis, 31 Des 2020 14:56 WIB
Pertamina
Foto: Pertamina
Jakarta -

PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region (MOR) II bekerja sama dengan Yayasan Rumah Energi melakukan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) sebagai bentuk pemanfaatan limbah organik.

Pertamina memanfaatkan limbah organik dengan mendorong pengembangan energi terbarukan ramah lingkungan lewat Program Energi Berdikari. Pada program yang dinamakan Desa Mandiri Energi Lampung Tengah, dibangun 40 unit teknologi biogas dan 40 unit instalasi cocok tanam rumahan hidroponik untuk 40 rumah tangga warga Lampung Tengah.

Program Energi Berdikari dari Pertamina bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat, ketahanan pangan lokal, konservasi lingkungan melalui pengolahan limbah organik, serta pemanfaatan energi terbarukan untuk memasak.

Program ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin tujuh, yaitu fokus pada energi bersih dan terjangkau. Pembangunan energi terbarukan dari unit biogas dapat menjadi alternatif bahan bakar fosil yang biasa digunakan para penerima manfaat.

Poin delapan SDGs berfokus mendorong pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi. Sejalan dengan poin tersebut, program dari Pertamina ini berkontribusi menciptakan lapangan pekerjaan, penghematan pengeluaran, pemanfaatan bio-slurry, dan ketahanan pangan lokal. Data Biogas User Survey (BUS) 2019 menunjukkan, pengguna biogas dapat menghemat pengeluaran rata-rata sebesar Rp 50.000 per bulannya.

Pjs Unit Manager Communication, Relation, & CSR MOR II, Ujang Supriadi menyampaikan aplikasi teknologi Biogas Rumah (BIRU) dapat menjadi upaya komprehensif untuk konservasi energi dan lingkungan secara berkelanjutan, sejalan dengan Skala Prioritas Sustainable Development Goals (SDGs).

Program Energi Berdikari memberi dampak pada konservasi lingkungan melalui pengelolaan limbah organik dan ketahanan pangan melalui hidroponik. Ujang menyampaikan, program ini juga menciptakan lapangan kerja untuk sektor biogas secara lokal terutama tenaga pembangun instalasi biogas yang memiliki keahlian & kompetensi di bidangnya dan keterlibatan perempuan dalam basis pemberdayaan komunitas lokal.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung menunjukkan populasi ternak sapi di Lampung Tengah pada 2019 mencapai 326.417 ekor. Hingga Maret 2019, Provinsi Lampung telah mencapai 35% target Upaya Khusus Percepatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting (Upsus Siwab) dengan Lampung Tengah berada di garis hijau urutan kelima se-Indonesia.

Potensi besar budidaya dari peternakan sapi dapat menjadi ancaman perubahan iklim jika limbah yang menghasilkan emisi metana tidak dikelola secara sirkuler dan optimal.

"Program Energi Berdikari dari Pertamina ini sangat bermanfaat untuk warga dan saya harapkan ke depannya biogas rumah bisa digunakan untuk semua warga. Dengan Biogas ini dapat menjadi salah satu alternatif energi terbarukan yang tidak hanya untuk memasak namun juga membantu para ibu-ibu dalam menghemat biaya pengeluaran sehari-hari keluarga dan pengolahan limbah kotoran hewan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan warga," ujar Misman, Lurah dari Desa Mojopahit dalam keterangan tertulis, Kamis (31/12/2020).

Tak hanya untuk memasak, teknologi biogas memiliki beragam manfaat. Ampas biogas yang dikenal dengan nama bio-slurry dapat digunakan sebagai pupuk alami dalam bentuk cair maupun padat. Bio-slurry dapat meningkatkan kesuburan tanah karena kaya akan nutrisi dan mikroba probiotik yang memiliki keunggulan dalam pembenahan struktur tanah.

Bio-slurry dapat membantu meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen. Hal ini dinilai tepat guna bagi warga yang bekerja sebagai peternak dan petani, khususnya dengan melakukan instalasi cocok tanam rumahan hidroponik.

Nursyamsiah, salah satu penerima manfaat program Desa Mandiri Energi Lampung melihat efektivitas biogas dalam berbagai sisi.

"Menurut saya, biogas lebih efektif dari segala sisi dibandingkan dengan bahan bakar memasak lainnya. Dampaknya meringankan pengeluaran sehari-hari yang dikeluarkan untuk membeli LPG 3 kg terganti oleh Biogas. Harapan saya supaya Biogas Rumah ini bisa dirasakan manfaatnya oleh semua warga karena sangat membantu mengurangi atau memanfaatkan limbah yang biasanya tidak terpakai. Semoga ke depannya Biogas Rumah ini tidak hanya dimanfaatkan untuk menggantikan LPG atau kayu saja, semoga juga bisa dimanfaatkan untuk keperluan yang lain juga." jelas Nursyamsiah.

Selain itu, Direktur Eksekutif Yayasan Rumah Energi Rebekka S. Angelyn juga melihat teknologi biogas sebagai solusi penanggulangan masalah limbah dari budidaya ternak.

"Teknologi biogas bisa menjadi salah satu solusi dalam penanggulangan masalah limbah organik yang warga miliki seperti kotoran hewan ternak yang bisa dimanfaatkan sebagai energi terbarukan untuk memasak. Dengan potensi budidaya ternak di Kabupaten Lampung Tengah yang begitu besar, program ini bisa menjadi aksi nyata dalam upaya memberikan akses energi terbarukan yang terjangkau sekaligus peningkatan ekonomi masyarakat," kata Rebekka.

(mul/ega)