Perusahaan Patungan Pertamina, Pupuk Kujang & ITB Siap Produksi Katalis

Yudistira Imandiar - detikFinance
Kamis, 31 Des 2020 15:08 WIB
Pertamina-Pupuk Kujang-ITB
Foto: Pertamina
Jakarta -

PT Pertamina (Persero) melalui PT Pertamina Lubricants (PTPL) membentuk perusahaan patungan bersama PT Pupuk Kujang (PK) dan PT Rekacipta Inovasi ITB. Perusahaan yang dinamai PT Katalis Sinergi Indonesia (PT KSI) itu bergerak di bidang manufaktur katalis.

Pembentukan perusahaan tersebut disahkan dalam Akta Pendirian Perusahaan yang ditandatangani oleh Direktur Utama PT Pertamina Lubricants Ageng Giriyono, Direktur Utama PT Pupuk Kujang Maryadi, dan Direktur Utama PT Rekacipta Inovasi ITB Alam Indrawan. Penandatanganan dilakukan pada Rabu (30/12) di Cikampek, Jawa Barat.

Pendirian PT KSI sebagai perusahaan patungan penghasil katalis merupakan langkah kolaborasi yang ditempuh oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Perguruan Tinggi BHMN guna merealisasikan program pengembangan sumber daya energi berbasis kelapa sawit. Program tersebut tertuang dalam Program Strategis Nasional berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 109 Tahun 2020 yang sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020 - 2024.

Investasi awal untuk pembangunan pabrik Katalis ini sekitar Rp 170 miliar dengan porsi saham PTPL sebesar 38%, PKC sebesar 37% dan RII sebesar 25%.

Direktur Utama PT Pertamina Lubricants Ageng Giriyono menjelaskan produk katalis memegang peranan penting dalam industri pengolahan minyak, industri kimia dan petrokimia serta industri energi. Ageng menyebut produsen dan pemasok katalis di Indonesia masih sangat sedikit sehingga potensi pengembangan inovasi katalis dalam negeri sangat besar.

Ia menambahkan pemanfaatan energi terbarukan melalui kelapa sawit membutuhkan katalis untuk akselerasi proses pengembangannya sehingga permintaan dan kebutuhan katalis akan terus meningkat secara signifikan di masa yang akan datang.

Menurut Ageng, nantinya produksi katalis merah putih dari PT KSI akan berkontribusi sekitar 800 ton per tahun. Produk katalis JV ini akan diserap sekitar 64% oleh Pertamina dan 34% dialokasikan untuk Oleochemical Plant.

Pembangunan pabrik di dalam negeri, kata Ageng, diharapkan mampu mengurangi ketergantungan impor katalis secara signifikan, mempercepat lahirnya inovasi produk dan teknologi baru, serta membangun daya saing industri dalam negeri.

"Bahkan pada saatnya nanti diharapkan produk katalis merah putih karya anak bangsa ini akan mampu menembus pasar ekspor dan bersaing dengan produk-produk global player," imbuh Ageng.

Ageng menyampaikan PT Pertamina Lubricants akan berkontribusi dan mendukung penuh setiap tahapan mulai dari pembangunan pabrik yang rencananya dilakukan pada triwulan kedua tahun 2021 dan direncanakan beroperasi pada triwulan pertama tahun 2022.

"Pendirian perusahaan patungan ini juga diharapkan membawa manfaat bagi Pertamina Group. Bagi PTPL menjadi potensi bisnis baru sedangkan di sisi lain diharapkan mampu menjaga stabilitas pasokan dan harga katalis bagi kilang milik PT Kilang Pertamina Internasional," sambung Ageng.

Pendirian PT KSI diproyeksi untuk meningkatkan penggunaan bahan baku produksi dalam negeri sehingga mampu meningkatkan Tingkat Komponen dalam Negeri (TKDN) dan mampu mendorong pertumbuhan industri lainnya.

"Kami mengharapkan dukungan dari Pemerintah agar proyek ini dapat segera terealisasi dan semoga dapat menjadi percontohan untuk sinergi antarBUMN dan perguruan tinggi BHMN pada industri lain," sambung Ageng.

Direktur Utama PT Rekacipta Inovasi ITB Alam Indrawan mengatakan pembentukan perusahaan Katalis Merah Putih merupakan tonggak sejarah baru bagi Indonesia. Hasil penelitian dari ITB dihargai sebagai Hak Kekayaan Intelektual, yang menunjang berdirinya sebuah perusahaan.

"Ini bisa menjadi role model di seluruh kampus dan institusi penelitian di Indonesia, bagaimana penelitian dihargai, sehingga bisa melakukan penelitian lebih baik lagi. Ini langkah agar Indonesia masuk menjadi negara maju, karena kekayaan intelektualnya dihargai di negeri ini," kata Alam.

Alam menyebut Katalis Merah Putih merupakan satu-satunya di dunia, yang bisa memproduksi bahan bakar dari sawit. Hasil petani sawit nantinya bisa tersalurkan untuk produksi bahan bakar kendaraan.

"Berdirinya pabrik ini semoga bisa membawa manfaat yang lebih banyak lagi bagi masyarakat," lanjut Alam.

Direktur Utama PT Pupuk Kujang Maryadi menegaskan katalis merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat dan hampir semua industri memerlukan katalis.

"Indonesia merupakan produsen sawit terbesar kedua di dunia setelah Malaysia. Berdirinya pabrik Katalis Merah Putih akan menjadi bukti bahwa bangsa Indonesia mampu menciptakan katalis sendiri tanpa tergantung negara lain," sebut Maryadi.

Ia berharap pabrik Katalis Merah Putih dapat memberikan multiplier effect bagi industri nasional di tengah hantaman berat akibat pandemi COVID-19.

"Pembentukan pabrik katalis ini merupakan torehan sejarah dan dapat menjadi role model bisnis yang menyinergikan antara lembaga riset, dunia usaha serta Pemerintah. Berdasarkan Perpres No 109 tahun 2020, proyek katalis ini dikategorikan sebagai proyek strategis nasional," urai Maryadi.

(mul/mpr)