Banyak Negara Lockdown, Harga Minyak Dunia Merosot

Aulia Damayanti - detikFinance
Selasa, 12 Jan 2021 10:16 WIB
Harga Minyak Mentah AS Di Bawah Nol, Pembeli Tidak Bayar Malah Ditawari Uang
Foto: DW (News)
Jakarta -

Harga minyak dunia tercatat turun, Senin (11/1). Penurunan ini disebabkan oleh banyaknya negara di dunia yang melakukan pembatasan (lockdown) karena khawatir adanya peningkatan kasus COVID-19.

Seiring dengan penurunan harga minyak, dolar Amerika Serikat (AS) tercatat menguat. Penguatan itu didukung oleh harapan adanya stimulus untuk meningkatkan ekonomi terbesar dunia itu.

Dikutip dari Reuters, Selasa (12/1/2021) harga minyak Brent turun 33 sen menjadi US$ 55,66 per barel, setelah meroket dari sesi terendah US$ 54,99. Sedangkan harga minyak US West Texas Intermediate (WTI) naik satu sen menjadi US$ 52,25 per barel.

Menurut analis Commerzbank Eugen Weinberg, lockdown yang dilakukan banyak negara di dunia untuk menekan jumlah kasus COVID-19 yang dikhawatirkan akan meningkat. Hal itu tentu akan berdampak pada permintaan minyak dan bahan bakar.

Sementara menguatnya dolar AS akan membebani daya jual minyak. Sebab minyak biasanya dihargai dalam dolar, jadi dolar yang lebih kuat membuat minyak mentah lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain

"Kekhawatiran baru tentang permintaan karena jumlah kasus korona baru yang sangat tinggi dan pembatasan mobilitas lebih lanjut, ditambah dolar AS yang lebih kuat, menghasilkan tekanan jual," kata Weinberg.

Dalam perhitungan Reuters, kasus COVID-19 di seluruh dunia telah melampaui 90 juta orang. Inggris dan Jerman disebut terus menghadapi peningkatan kasus.

China juga mengalami peningkatan kasus terbesar harian dalam lima bulan. Dengan demikian, pemerintah China mengeluarkan kebijakan untuk melarang perjalanan guna mengendalikan penyebaran.

Pekan lalu minyak brent dan WTI sempat naik sekitar 8%, didorong oleh janji Arab Saudi yang akan pengurangan produksi minyak secara sukarela sebesar 1 juta barel per hari (bph) pada Februari dan Maret. Janji itu sebagai bagian dari kesepakatan OPEC + untuk mempertahankan produksi stabil.

Dengan penurunan produksi oleh Arab Saudi, Goldman Sachs memprediksi minyak Brent bisa naik menjadi US$ 65 per barel pada musim panas 2021.

(eds/eds)