BP Rugi Nyaris Rp 80 Triliun, Terparah dalam 10 Tahun

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 02 Feb 2021 22:39 WIB
BP AKR Fuels Retail mengumumkan bahwa empat SPBU pertama mereka di Indonesia kini telah dibuka. Begini kondisi SPBU milik BP AKR Fuels Retail.
SPBU BP/Foto: BP AKR Fuels Ritel
Jakarta -

Produsen minyak dan gas British Petroleum atau BP mengalami kerugian sebesar US$ 5,7 miliar atau setara Rp 79,8 triliun (kurs Rp 14.000/US$) pada 2020, terparah dalam 10 tahun terakhir. Penyebabnya karena pandemi virus Corona menurunkan permintaan minyak.

Meski begitu, BP mengaku akan tetap melakukan transisi untuk pembuatan energi bersih. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan pembangkit listrik terbarukan menjadi 50 gigawatt (GW) pada 2030 dari 3,3 GW saat ini, sambil memangkas produksi minyak untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

BP tetap optimistis Belanja modal akan naik jadi US$ 13 miliar tahun ini, di mana US$ 9 miliar masih akan digunakan untuk minyak dan gas. Untuk kuartal terakhir tahun 2020, BP melaporkan keuntungan sebesar US$ 115 juta, jauh dari perkiraan analis karena penjualan minyak dan gas yang lemah.

"Kuartal yang sulit di akhir tahun yang sulit," kata CEO BP, Bernard Looney dikutip dari Reuters, Selasa (2/2/2021).

"Kami memperkirakan pembatasan COVID-19 yang diperbarui memiliki dampak yang lebih besar pada permintaan produk, dengan volume ritel Januari turun sekitar 20% tahun ke tahun, dibandingkan dengan penurunan 11% pada kuartal keempat," lanjut Bernard.

Meski begitu, permintaan minyak diprediksi akan pulih pada 2021 dengan persediaan global yang diperkirakan akan kembali ke rata-rata lima tahun pada pertengahan tahun. Pasar gas alam global yang lebih ketat diharapkan lebih mendukung keuntungan.

Saham BP telah kehilangan lebih dari 40% nilainya selama setahun terakhir dan tetap mendekati posisi terendah selama 25 tahun. Pesaingnya termasuk Royal Dutch Shell dan Exxon Mobil juga mengalami penurunan nilai pasar dalam beberapa bulan terakhir.

Tumpukan utang BP sebesar US$ 39 miliar diperkirakan akan meningkat pada paruh pertama tahun ini karena terus berjuang saat lingkungan bisnis lemah. Perusahaan akan berusaha untuk mengurangi utangnya menjadi US$ 35 miliar pada awal 2022. Di level utang itu, BP berencana memulai buyback saham. Dividen BP tetap pada 5,25 sen per saham.

(aid/hns)