Raksasa Migas Dunia Pecah 2 Kubu! Jadi Tim Fosil dan Tim EBT

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 04 Feb 2021 09:14 WIB
Harga Minyak Dunia Anjlok
Foto: Reuters

Di sisi lain, masa depan tampaknya akan lebih suram bagi raksasa migas dari negeri Paman Sam seperti Exxon dan Chevron, yang sejauh ini menolak perubahan besar pada bisnis mereka untuk melakukan transformasi ke arah energi yang lebih bersih.

Exxon justru melawan kampanye agresif dari aktivis investor yang meminta mereka memikirkan kembali pendekatannya soal energi bersih. Meski begitu, Exxon sendiri mengaku akan menginvestasikan miliaran dolar pada teknologi yang mengurangi emisi hingga tahun 2025.

Tapi upaya itu tidak banyak menjembatani kesenjangan energi terbarukan yang meluas dengan negara-negara Eropa yang telah melakukan investasi besar ke energi bersih dan terbarukan.

"Eropa tetap beberapa langkah ke depan, dan tahun ini kita harus mengharapkan akselerasi lebih lanjut," kata analis minyak Bernstein Oswald Clint.

Sebetulnya, lingkungan politik dapat memudahkan Exxon dan Chevron untuk bergerak ke arah yang baru. Apalagi, Presiden AS Joe Biden sendiri telah berkomitmen untuk memerangi perubahan iklim.

Biden telah mengumumkan bahwa AS akan bergabung kembali dengan kesepakatan iklim Paris pada hari pertamanya menjabat, dan dengan cepat menghentikan sewa minyak dan gas baru di tanah federal.

Tetapi perbedaan antara perusahaan di AS dan Eropa, mereka benar-benar bermuara pada pandangan yang berbeda tentang ke mana permintaan minyak mentah pergi begitu pemulihan dari COVID-19.

Pandemi telah menghancurkan pendapatan di seluruh sektor. Penurunan harga bahan bakar Maret lalu, mendorong Exxon dan BP mengalami kerugian tahunan yang jarang terjadi setelah mereka dipaksa untuk menghapus aset miliaran dolar.

Exxon kehilangan US$ 22,4 miliar pada tahun 2020, tahun pertama di merah sejak 1999. BP melaporkan kerugian tahunan sebesar US$ 5,7 miliar, yang pertama dalam satu dekade.

Perusahaan AS masih terus beroperasi dengan asumsi bahwa masalah ini hanya akan berlangsung sebentar. Mereka berpendapat permintaan minyak akan meledak selama beberapa dekade mendatang, terutama karena ekonomi di negara berkembang melaju semakin cepat.


(hal/ara)