John Kerry Minta Perusahaan Migas di AS Investasi di Energi Bersih

Aulia Damayanti - detikFinance
Kamis, 04 Mar 2021 13:56 WIB
U.S. Secretary of State John Kerry delivers remarks on Middle East peace at the Department of State in Washington December 28, 2016. REUTERS/James Lawler Duggan     TPX IMAGES OF THE DAY
Foto: REUTERS/James Lawler Duggan
Jakarta -

Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) John Kerry memberi pesan kepada pimpinan perusahaan minyak dan gas. Dia menyerukan perusahaan migas untuk menyambut perubahan dan mulai beralih ke energi bersih.

Dikutip dari CNN, Kamis (4/3/2021) Kerry yang juga menjadi utusan khusus Presiden AS Joe Biden untuk iklim, mendesak industri migas untuk berinvestasi dalam energi bersih seperti hidrogen bebas karbon. Dia pun memuji perusahaan yang sudah bergerak melakukan transisi ke energi bersih.

Perusahaan itu lebih banyak dilakukan oleh perusahaan migas Eropa. Seperti BP, Shell, dan Total yang telah berjanji untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari operasi mereka sendiri menjadi nol bersih pada tahun 2050.

Sementara perusahaan migas di AS, ExxonMobil (XOM), Chevron, dan raksasa minyak AS lainnya berinvestasi lebih banyak dalam penangkapan karbon dan biofuel, tetapi mereka tidak ingin merombak keseluruhan bisnis mereka.

Menurut Kerry, meski perusahaan migas harus beralih ke energi bersih, pengetahuan dan infrastruktur yang dimiliki bisa digunakan untuk pengembangan energi bersih. Seperti bisa digunakan untuk menggerakkan pabrik, mobil, dan bahkan pesawat. Namun, dia mengakui tenaga hidrogen saat ini masih terlalu intensif karbon dan diperlukan lebih banyak penelitian.

"Masih ada beberapa perlawanan terhadap transisi ini dan itu adalah sesuatu yang tidak dapat kami tanggung lagi," kata Kerry.

Eksekutif industri minyak AS, CEO Occidental Petroleum Vicky Hollub menolak gagasan bahwa mereka perlu mengucapkan selamat tinggal pada minyak dan gas alam.

"Kita seharusnya tidak berbicara tentang menghilangkan bahan bakar fosil. Apa yang benar-benar perlu kita bicarakan adalah menghilangkan emisi. Minyak karbon nol bersih. Itulah yang dibutuhkan dunia," katanya.

Occidental (OXY) sendiri berinvestasi besar-besaran dalam penangkapan dan penyimpanan karbon. Tetapi teknologi penangkapan karbon saat ini sangat mahal dan sulit untuk diukur. CEO Chevron (CVX) Mike Wirth mengatakan migas masih menjadi bagian bisnis perusahaan namun mungkin terlihat berbeda pada 2040.

Sementara, BP yang berbasis di London mengambil sikap berbeda. Raksasa minyak itu berpikir permintaan minyak mungkin telah mencapai puncaknya pada 2019 dan berencana untuk memangkas produksi minyak dan gasnya sebesar 40% pada tahun 2030. BP juga meningkatkan investasi rendah karbon tahunannya menjadi $ 5 miliar.

"Kami telah menjadi perusahaan minyak dan gas selama 112 tahun. Ini adalah momen di mana kami harus menemukan kembali perusahaan tersebut," kata CEO BP Bernard Looney.

(zlf/zlf)