Sampai Kapan RI Mau Jualan Batu Bara Mentah Terus?

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Selasa, 09 Mar 2021 11:38 WIB
Harga batu bara belum beranjak jauh dari level terendahnya. Selasa (3/11) harga batubara kontrak pengiriman Desember 2015 di ICE Futures Exchange bergerak flat dibanding sehari sebelumnya di US$ 53,15 per metrik ton. Rachman Haryanto/detikcom.
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Peningkatan nilai tambah atau hilirisasi batu bara merupakan isu lama. Namun, isu hilirisasi tersebut tak kunjung terselesaikan. Demikian disampaikan Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin dalam webinar, Selasa (9/3/2021).

"Dengan pengalaman saya di Minerba dan Maritim saya 25 tahun di ITB. Isu soal hilirisasi batu bara bagi saya isu lama yang nggak pernah jadi. 20 tahun yang lalu sudah dibahas peningkatan nilai tambah oleh pakar-pakar ITB di sana," katanya.

Ia menyampaikan hal tersebut mengingat Indonesia sebagai negara besar namun lambat menerapkan hilirisasi batu bara.

"Saya tergelitik menyampaikan ini karena sebagai bangsa yang besar di sektor ini, kita adalah sangat lambat dalam menerapkan konteks peningkatan nilai tambah sumber daya alam kita. Bahasa saya saat itu, yang direncanakan sudah bagus tapi kita tidak berdaya untuk melaksanakannya," terangnya.

Namun, dia bilang, saat ini para pemangku kepentingan telah bersatu padu. Baik pemerintah melalui regulasi hingga badan usaha untuk memecahkan permasalahan tersebut.

Ridwan pun kemudian bercerita, belum lama ini meninjau proyek peningkatan nilai tambah di PT Kaltim Prima Coal. Di sana, dia bilang paling tidak ada lima kendala yang ditemukan.

"Kemarin paling tidak kalau saya boleh mengambil contoh KPC sudah ada 5 katakanlah kendala atau insentif yang belum selesai yang diharapkan oleh badan usaha dari pemerintah maupun sesama badan usaha. Masih ada ternyata, saya pikir sudah selesai urusan," ujarnya.

Simak juga video 'Jokowi Ingin Ekspor Batu Bara Mentah Diakhiri':

[Gambas:Video 20detik]

Apa saja tantangan hilirisasi batu bara? klik halaman berikutnya.

Tantangan tersebut di antaranya sertifikasi lahan, zonasi hingga akses jaringan. Dengan begitu, dia menuturkan, masih ada pekerjaan rumah untuk mendorong hilirisasi batu bara ini.

"Paling tidak masih ada 5 nih, artinya PR masih ada. Hal lain saya catat Bukit Asam dan Pertamina mudah-mudahan sudah sepakat dengan keekonomian. Berdasarkan pengalaman panjang ini saya pahami paling tidak hal-hal itu tantangan besar saat ini, plus yang tidak bisa terhindarkan keekonomian," ujarnya.

Pemerintah juga tengah menyiapkan sejumlah kebijakan untuk mendorong hilirisasi batu bara seperti gasifikasi. Kebijakan itu mencakup sisi hulu hingga hilir.

Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Batu Bara Kementerian ESDM Sujatmiko mengatakan, pihaknya sedang menyiapkan Keputusan Menteri terkait royalti 0% untuk batu bara. Lalu formula harga khusus batu bara untuk gasifikasi.

"Di hulu kami sedang menyiapkan rancangan Kepmen untuk royalti 0% dari PP yang sudah ada, juga akan ditindaklanjut dengan Keputusan Menteri formula harga khusus batu bara untuk gasifikasi. Dan masa berlaku IUP sesuai umur ekonomis proyek gasifikasi," katanya dalam webinar, Selasa (9/3/2021).

Kemudian, di sisi pemrosesan diperlukan tax holiday badan secara khusus sesuai umur ekonomis gasifikasi batu bara dan pembebasan PPN jasa pengolahan batu bara menjadi syngas sebesar 0%. Lalu, pembebasan PPN EPC kandungan lokal.

"Yang nanti akan diputuskan Kemenko Perekonomian dan Kemenkeu," katanya.

Di sisi hilir, lanjutnya, tengah disipkan harga patokan produk gasifikasi, pengalihan sebagian subsidi LPG ke DME sesuai dengan porsi LPG yang disubtitusi. Kemudian, kepastian offtaker produk hilirisasi. "Ini sedang dibahas ESDM dan kepastian off takernya," ujarnya.

Namun, dia menuturkan, pemerintah mendorong agar proyek ini bisa ekonomis. Dengan begitu, tidak perlu banyak subsidi untuk proyek ini. "Artinya tidak perlu subsidi yang banyak membuat proyek ini berkembang maka itu tantangannya efisiensi dari pengolahan batu bara menjadi gasifikasi," ujarnya.

(acd/fdl)