Harga Minyak Mulai Bangkit, tapi Diprediksi Nggak Bakal Lama

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 18 Mar 2021 10:41 WIB
Sempat Anjlok, Kini Harga Minyak Mentah Dunia Menguat Berkat AS-Rusia
Foto: DW (News)
Jakarta -

Harga komoditas minyak mentah telah bergerak mengalami perbaikan seiring dengan upaya pemulihan ekonomi akibat pandemi COVID-19. Namun hal itu diprediksi tidak akan berlangsung lama.

Badan Energi Internasional mengaku tidak mengharapkan harga minyak terjadi supercycle atau fenomena terjadinya kenaikan harga komoditas dalam jangka panjang.

"Reli tajam minyak mendekati US$ 70 per barel telah mendorong pembicaraan tentang supercycle dan dibayangi kekurangan pasokan. Data dan analisis kami menunjukkan sebaliknya," kata IEA dalam laporan terbarunya dikutip dari CNN, Kamis (18/3/2021).

Beberapa analis memperkirakan harga minyak mentah melonjak mendekati US$ 100 per barel karena lockdown akibat virus Corona telah berakhir. Tetapi IEA, yang memantau tren pasar energi untuk negara-negara terkaya di dunia, menyebut ada terlalu banyak alasan hingga hal itu tidak terjadi.

"Sebagai permulaan, persediaan minyak masih terlihat cukup dibandingkan dengan tingkat historis meskipun terjadi penurunan yang stabil dari overhang besar-besaran yang menumpuk selama kuartal kedua tahun 2020," katanya.

IEA juga mengutip keputusan sekelompok produsen minyak utama untuk memperpanjang pembatasan pasokan. Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen sekutunya awal bulan ini mengatakan bahwa sebagian besar dari mereka akan membatalkan pengurangan produksi selama bulan April, dan memilih untuk membatasi pasokan sampai pemulihan ekonomi global lebih pulih.

Kelompok OPEC + pada Januari telah setuju untuk menjaga produksi tetap stabil di Februari dan Maret. Pada saat itu, Arab Saudi mengejutkan pasar dengan berjanji untuk memangkas produksinya dengan tambahan 1 juta barel per hari.

"Di atas bantalan stok, sejumlah besar kapasitas produksi cadangan telah dibangun sebagai akibat dari pembatasan pasokan OPEC +," ucapnya.

Pada konferensi pers awal bulan ini, Menteri Energi Saudi Abdulaziz Bin Salman menilai pasar masih belum terbuka tentang masa depan pasar minyak.

"Saya akan percaya pada (pemulihan pasar), ketika saya melihatnya," kata dia.

Tahun lalu, OPEC + memangkas produksi dengan rekor 9,7 juta barel per hari. Pemulihan itu telah dipercepat dalam beberapa bulan terakhir karena jutaan orang di seluruh dunia telah divaksin, yang memungkinkan pembatasan perlahan-lahan dikurangi.

Minyak mentah berjangka sekarang telah memulihkan semua kerugian selama awal pandemi. Minyak mentah brent, patokan global, diperdagangkan pada US$ 67,68 pada hari Rabu. Harga minyak AS berada di atas US$ 64,36, jauh dari rekor terendah April lalu.



Simak Video "Harga Minya Dunia Anjlok, Jokowi: Manfaatkan Peluang Ini"
[Gambas:Video 20detik]
(aid/zlf)