Marak Penyelundup 'Harta Karun' di Bangka Belitung, Luhut: Kemarin Satu Kami Tangkap

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 13 Apr 2021 13:53 WIB
FILE PHOTO: A bastnaesite mineral containing rare earth is pictured at a laboratory of Yasuhiro Kato, an associate professor of earth science at the University of Tokyo, July 5, 2011. REUTERS/Yuriko Nakao/File Photo
Foto: Reuters
Jakarta -

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan logam tanah jarang alias rare earth banyak diekspor secara ilegal di Bangka Belitung. Ada salah satu eksportir ilegal yang baru saja ditangkap.

"Kita ini juga mau lakukan penataan ekspor dari Bangka Belitung, di sana banyak sekali rare earth yang diekspor dan tidak jelas. Kemarin satu kami tangkap," ujar Luhut dalam Peluncuran Aksi Pencegahan Korupsi Stranas PK 2021-2022, Selasa (13/4/2021).

Luhut mengatakan ekspor 'harta karun' secara ilegal ini sudah ditangani Bea Cukai. Menurutnya, modus ekspor ilegal ini ketahuan setelah ada eksportir yang membawa barang berbeda dengan apa yang dilaporkan, ternyata barang tersebut adalah rare earth.

"Itu apa yang didapatkan di dalam dan yang dilaporkan berbeda, sehingga pak Askolani dengan Bea Cukainya mulai memproses," ujar Luhut.

Dari catatan detikcom, rare earth merupakan mineral tanah jarang yang sangat banyak ditemui pada pasir timah di Bangka Belitung. Rare earth disebut memiliki harga jual yang tinggi. Bahkan Luhut pun pernah membahas penggunaan rare earth untuk pembuatan senjata dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

Berdasarkan perbincangan detikcom dengan Direktur Utama PT Timah yang kala itu dijabat Sukrisno, Minggu (28/6/2015), tanah jarang ini bisa dijual hingga 10 kali lipat lebih tinggi dibanding timah itu sendiri. Komponen satu ini bahkan bisa digunakan untuk partikel nuklir, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) hingga komponen elektronik.

"Tanah jarang atau rare earth ini mineral ikutan, dari proses pemurnian timah itu kan diayak istilahnya dimurnikan, dan mineral pasir itu mengandung tanah jarang atau monazite namanya," kata Sukrisno.

Tanah jarang bisa diproses menjadi 12 komponen, termasuk monazite, thorium, dan lainnya. Salah satu yang paling potensial untuk dijual adalah monazite.

Terkait dengan harga, tanah jarang ini disebut-sebut harganya lebih mahal dibanding timah. Harganya bisa mencapai 10 sampai 12 kali lebih mahal dibanding timah. Tanah jarang tersebut bisa dijual per kg, sedangkan pasir timah dijual per metrik ton.

Simak juga 'Firli Bahuri Ungkap KPK Telah Tangkap 1.552 Orang karena Korupsi':

[Gambas:Video 20detik]



(hal/ang)