Kronologi Ledakan dan Kebakaran di Kilang Balongan Versi Ombudsman

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Rabu, 14 Apr 2021 15:40 WIB
Kebakaran terjadi di kilang minyak PT Pertamina RU VI Balongan, Indramayu, Jawa Barat, Senin (29/3) lalu. Yuk lihat lagi Kilang Balongan sebelum dan saat terbakar.
Foto: Antara Foto/Dedhez Anggara
Jakarta -

Ombudsman RI mengumumkan hasil investigasinya perihal tragedi ledakan dan kebakaran di Kilang Balongan yang dioperasikan Pertamina. Kebakaran itu terjadi pada dini hari Senin, 29 Maret 2021.

Menurut anggota Ombudsman Hery Susanto, sebelum terjadi ledakan yang berujung kebakaran di area kilang, masyarakat sudah mencium bau menyengat dari arah kilang sejak sore hari sebelumnya atau Minggu, 28 Maret 2021.

Kemudian, menurutnya, per pukul 21.30 WIB, masyarakat menggeruduk kantor Humas Pertamina untuk meminta penjelasan soal bau menyengat dari dalam kilang. Namun masyarakat tidak mendapatkan jawaban.

"Karena merasa tidak digubris, warga menjadi emosional dan melakukan aksi lempar ke kantor Pertamina. Pukul 22.00 WIB, protes warga dibubarkan Polsek Balongan," papar Hery dalam konferensi pers virtual, Rabu (14/4/2021).

Kemudian masyarakat sempat mendengar ledakan kecil dari dalam Kilang Balongan pada pukul 23.45 WIB. Ledakan kembali terjadi dan cukup besar intensitasnya sekitar pukul 00.45 WIB, membuat warga yang protes di kantor Pertamina berhamburan.

"Setelah terjadi ledakan besar, warga mulai berhamburan. Bahkan di lokasi kejadian terdapat mobil Polsek juga terbakar," ujar Hery.

Ironisnya, pada waktu yang sama, ada enam warga sekitar yang melintasi kilang setelah melakukan pengajian nisfu Sya'ban. Enam orang ini disebut mengalami luka berat, kemudian ada juga 15 orang dengan luka ringan, yang merupakan warga yang tinggal di dekat lokasi.

"Kemudian ini ada 6 orang baru pulang pengajian nisfu Sya'ban nggak sengaja melintas saat ledakan. Mereka terempas dan mendapatkan luka berat," papar Hery.

Di dalam kilang, menurut Hery, dari laporan Pertamina, kebakaran terjadi pertama kali di salah satu tangki Pertalite yang letaknya di pojok kilang. Tangki yang terbakar bernomor 42-T-301-G. Setelah tangki terbakar, api menyambar ke tiga tangki lainnya: 42-T-301-F, 42-T-301-E, dan 42-T-301-H.

"Jumlah tangki yang terbakar ada 4 atau 7 persen dari total tangki, yang mencapai 41 di dalam kilang. Luas area yang terbakar adalah 2 hektare," papar Hery.

"Ini disinyalir akibat bau menyengat tadi ada zat yang dipicu meledak setelah kena petir," lanjutnya.

Menurut Hery, dari laporan Pertamina, setelah tangki 42-T-301-G terbakar, isi di dalam tangki tersebut langsung ditransfer ke dua tangki yang tak terbakar. Hal ini untuk menurunkan level minyak di tangki yang terbakar.

"Kemudian Pertamina melakukan penutupan valve dan mengisolasi area," ujar Hery.

Kerugian Pertamina setelah kejadian ini dilaporkan Hery berupa kerusakan 4 tangki yang terbakar dengan volume BBM senilai 25.328 kiloliter. Kemudian, ada 2 unit pickup kilang yang terbakar, dan kerusakan beberapa bangunan kilang.

"BBM yang ikut terbakar ada di tangki 42-T-301-G sebesar 23.290 kiloliter dan 42-T-301-E sebesar 2.038 kiloliter. Dua tangki lainnya sedang kosong," ujar Hery.

(hal/dna)