Kurangi Emisi Sektor Migas, Pemerintah Akan Terapkan Teknologi CCUS

Jihaan Khoirunnisaa - detikFinance
Kamis, 29 Apr 2021 15:39 WIB
Emisi karbon yang terjadi di dunia semakin hari semakin besar. Ini menyebabkan perubahan iklim terasa lebih cepat. Tapi tenang, ada sejumlah cara agar lingkungan terselamatkan.
Foto: Inhabitat/Istimewa
Jakarta -

Kementerian ESDM terus berupaya untuk mengoptimalkan kontribusi penggunaan bahan bakar guna mengurangi emisi C02. Salah satunya dengan menerapkan Carbon Capture, Utilization, dan Storage (CCUS) di sektor minyak dan gas bumi.

"Kami mendukung penuh penerapan CCUS di sektor migas melalui Enhanced Oil Recovery (EOR)/Enhanced Gas Recovery (EGR). Teknologi ini diperlukan untuk mengembangkan ladang migas yang mengandung CO2 tinggi, meningkatkan produksi dan mengurangi emisi. CCUS bisa menjadi solusi untuk menyediakan energi yang lebih ramah lingkungan," kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Tutuka Ariadji dalam keterangan tertulis, Kamis (29/4/2021)

Hal tersebut diungkapkannya pada webinar bertajuk CCS/CCUS yang digelar beberapa waktu lalu (26/4). Lebih lanjut Tutuka menjelaskan penerapan CCUS tengah menjadi bahasan penting di tingkat global. Sebab selain mengurangi emisi CO2, teknologi ini disebut mampu meningkatkan pemulihan minyak di ladang yang sudah habis.

Menurutnya, kondisi ini relevan dengan target pemerintah untuk mencapai produksi minyak menjadi 1 juta barel dan gas 12 BSCFD di tahun 2030. Adapun beberapa langkah yang diambil di antaranya dengan mengoptimalkan produksi lapangan, mencari cadangan baru melalui eksplorasi dan peningkatan migas nasional produksi melalui EOR/EGR.

Dia mengatakan saat ini pemerintah tengah merumuskan aturan terkait penetapan harga karbon. Draft aturan ini sudah masuk dalam tahap finalisasi di Sekretariat Negara.

Tak hanya itu, lanjutnya, pemerintah juga melanjutkan proses penyusunan regulasi terkait CCS/CCUS yang sebelumnya telah dirintis oleh Center of Excellence CCS /CCUS dan didukung oleh Asian Development Bank (ADB).

"Kami berharap regulasi tersebut dapat mendukung pemangku kepentingan dalam mengembangkan teknologi CCUS di Indonesia. Tidak hanya dari sisi aspek teknis, tetapi juga dari keamanan dan ekonomi," tuturnya.

Diungkapkan Tutuka, terdapat beberapa penelitian yang berkaitan dengan CCUS yang sedang dilakukan di Indonesia, yaitu proyek CCUS Gundih yang pada awalnya merupakan proyek CCS dan telah dilakukan sejak 2012.

Tutuka menilai perkembangan CCUS Gundih sangat penting bagi Indonesia terutama untuk menambah pengalaman dalam pelaksanaan CO2-EOR/EGR. Studi untuk proyek ini masih berlangsung di bawah dukungan METI dan diharapkan memberikan hasil yang bagus.

Proyek dan studi CCUS lainnya, lanjut dia, adalah Tangguh EGR di Papua Barat, Sukowati di Jawa Timur, Limau Niru di Sumatera Selatan dan sebagainya. Bahkan, studi CCUS yang terhubung ke industri hilir akan segera dimulai, seperti bagaimana memisahkan CO2 dari pabrik amoniak di Sulawesi Tengah.

Tutuka menyampaikan Direktorat Jenderal Migas fokus pada CCUS dalam meningkatkan produksi migas melalui CO2-EOR/EGR. Namun demikian, juga mendukung pengembangan daur ulang karbon karena bisa memberikan nilai ekonomi dari pemanfaatan CO2.

Dia menyebut, di Indonesia Kementerian ESDM yang diwakili oleh Balitbang ESDM saat ini sedang mempersiapkan kerja sama dengan Jepang terkait daur ulang karbon. Pertamina juga memiliki beberapa program penelitian terkait daur ulang karbon.

"Pemerintah Indonesia menyadari bahwa pengembangan CCUS membutuhkan kolaborasi semua pihak, termasuk ADB dan CoE CCS/CCUS. Kami akan selalu mendukung semua pemangku kepentingan yang mempromosikan teknologi CCUS untuk diterapkan di Indonesia," pungkasnya.

(ncm/hns)